Turgut Alp Boyraz, Eshat Fırat
14 Desember 2017•Update: 14 Desember 2017
Turgut Alp Boyraz, Eshat Fırat
YERUSALEM
Sejumlah LSM Turki mengirimkan surat dukungan untuk remaja Palestina yang menjadi simbol protes Yerusalem karena fotonya saat digiring oleh tentara Israel dengan mata tertutup.
Fawzi Al-Juneidi, remaja Palestina berumur 16 tahun berkali-kali dipukuli, ditendang, dari diseret oleh tentara Israel di kota Hebron, Tepi Barat pada Kamis lalu.
Selain itu sejumlah LSM tersebut juga mengundang paman remaja Palestina itu, Rashad al-Junaedi untuk menghadiri aksi unjuk rasa untuk Yerusalem yang akan diadakan pada 17 Desember mendatang di Ankara, Turki.
Sejumlah LSM Turki seperti Memur-Sen, Hak-Is, IHH, AGD, Cihannumma dan ONDER akan mengadakan demonstrasi di Ankara pada 17 Desember untuk memprotes keputusan Amerika Serikat mengakui Yerusalem sebagai "ibu kota Israel".
Kepada Anadolu Agency, Rashad menyatakan akan hadir jika bisa mendapatkan visa dan diizinkan keluar oleh otoritas Israel.
"Saya sangat senang dengan undangan dari Turki ini,” kata Rashad.
Rashad menilai ini adalah kesempatan untuk menyuarakan keterbatasan dan perlakuan buruk yang dilakukan oleh pasukan penjajah terhadap anak-anak Palestina.
“Kami akan terus berjuang melawan pendudukan. Kami akan melawan serangan-serangan yang dilakukan terhadap semua tempat suci khususnya Masjid al-Aqsa dan Yerusalem dengan hati dan suara,” kata dia.
Penahanan Junaedi menimbulkan reaksi keras di media sosial. Hakim militer memperpanjang masa penahanan al-Juneidi selama tiga hari pada Senin lalu.
Kemarin, masa penahanan al-Juneidi kembali diperpanjang, remaja berusia 16 tahun itu akan kembali menghadap hakim militer pada Senin dan ditahan hingga saat itu.
Menurut dakwaan jaksa militer yang dipaparkan kemarin, al-Juneidi dituduh "melempar batu ke tentara Israel".
Al-Juneidi membantah tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa saat itu dia keluar untuk memenuhi beberapa kebutuhan keluarganya dan terjebak di tengah kejadian.
Dalam persidangan dia juga mengungkapkan bahwa sejumlah tentara menghadang dan menutup matanya saat dia mencoba melarikan diri dari bom suara dan lokasi kejadian.
Penangkapan Al-Juneidi terjadi pada saat wilayah pendudukan Palestina bergolak karena aksi-aksi unjuk rasa menentang keputusan Presiden AS Donald Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, dan mengumumkan rencana memindahkan kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke kota yang diperebutkan tersebut.