Rıskı Ramadhan
01 Maret 2018•Update: 02 Maret 2018
Safvan Allahverdi
WASHINGTON
Turki telah menekankan kesediaannya untuk memfasilitasi akses kemanusiaan di Afrin, kata Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan Mark Lowcock pada Rabu.
"Pihak berwenang Turki telah menekankan kepada kami kesediaan mereka untuk memfasilitasi akses kemanusiaan," kata Lowcock saat menginformasikan Dewan Keamanan PBB (DK PBB) tentang perkembangan kemanusiaan di Suriah.
"Kami ingin melihat konvoi bantuan datang dari Damaskus tapi sejauh ini pihak Suriah belum menyepakatinya," kata dia.
Selain itu, dia mengatakan bahwa teroris PYD/PKK, yang oleh penduduk sipil digambarkan sebagai "pejabat daerah” masih terus menghentikan warga sipil yang ingin melarikan diri dari Afrin dan mencegah mereka ke masuk daerah yang lebih aman.
Turki pada 20 Januari lalu meluncurkan Operasi Ranting Zaitun untuk membasmi teroris PYD/PKK dan Daesh dari Afrin.
Afrin menjadi tempat persembunyian utama bagi PYD/PKK ketika rezim Assad di Suriah menyerahkan kota tersebut kepada kelompok teror tanpa pertempuran pada Juli 2012 silam.
PKK yang telah melakukan kampanye teror melawan Turki selama lebih dari 30 tahun dan menewaskan hampir 40.000 orang, didaftarkan sebagai kelompok teroris oleh Turki, Amerika Serikat dan Uni Eropa.
Lowcock juga mengatakan bahwa PBB siap memberikan bantuan kemanusiaan ke 10 wilayah yang dikepung namun belum mendapatkan akses ke daerah-daerah tersebut meski telah ada resolusi gencatan senjata Dewan Keamanan PBB.
Beralih ke situasi Ghouta Timur, dia mengatakan bahwa situasi kemanusiaan di lapangan belum membaik sedikit pun, tidak ada evakuasi medis yang dilakukan dan warga sipil tidak dapat meninggalkan wilayah tersebut.
"Lebih banyak pemboman, lebih banyak pertempuran, lebih banyak kematian, lebih banyak kehancuran, lebih banyak perempuan dan anak-anak yang cacat, lebih banyak kelaparan, Lebih banyak penderitaan. Lebih banyak lagi, dengan kata lain," kata Lowcock menanggapi pertanyaan mengenai apa yang telah terjadi dalam beberapa hari terakhir ini.
Dia menambahkan bahwa belum ada akses kemanusiaan sejak resolusi diadopsi pada Sabtu.
Terkait keputusan jeda kemanusiaan Rusia selama lima jam per hari di Ghouta timur, dia mengatakan bahwa tidak mungkin membawa konvoi kemanusiaan dan membagikan paket bantuan tersebut dalam lima jam.
Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Politik Jeffrey Feltman juga menyatakan bahwa masyarakat internasional telah gagal mengakhiri perang yang akan memasuki tahun kedelapan dalam dua pekan mendatang.
Rumah bagi sekitar 400.000 warga sipil, Ghouta Timur telah berada di bawah pengepungan rezim yang telah melumpuhkan kehidupan selama lima tahun terakhir. Pengepungan juga menghambat total akses kemanusiaan ke daerah tersebut.
Dalam delapan bulan terakhir, pasukan rezim telah memperketat pengepungan sehingga pengiriman makanan dan obat-obatan menjadi hampir tidak mungkin dilakukan.
Menurut badan pertahanan sipil White Helmets, serangan rezim telah menewaskan 389 orang di Ghouta Timur dalam enam hari terakhir.
Suriah telah dirundung konflik sejak perang sipil meletus pada Maret 2011, ketika rezim Bashar al-Assad menyerang aksi demonstrasi kelompok pro-demokrasi dengan brutal.
Meskipun pejabat PBB mengatakan ratusan ribu jiwa tewas akibat perang sipil tersebut, pejabat rezim Suriah mengatakan jumlah korban hanya sekitar 10 ribu jiwa.