İqbal Musyaffa
29 Januari 2018•Update: 29 Januari 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Pemerintah telah memeriksa kesehatan 12.398 anak yang tersebar di 23 distrik di Kabupaten Asmat sejak September akibat merebaknya wabah campak dan gizi buruk.
Menteri Sosial RI Idrus Marham mengatakan hasil pemeriksaan tersebut menyimpulkan terdapat 646 anak teridentifikasi campak, 25 anak suspek campak, 144 menderita gizi buruk, dan empat anak menderita campak sekaligus gizi buruk.
Idrus mengatakan dari enam kejadian luar biasa (KLB), ini merupakan kejadian terparah karena hampir seluruh distrik teridentifikasi menderita wabah tersebut.
“Anak-anak yang tidak pernah diimunisasi dan hidup di pedalaman paling banyak menderita gizi buruk akibat keterbatasan pangan,” jelas Idrus, Senin, di Jakarta.
Wilayah Asmat, kata Idrus, sangat terisolir, butuh pesawat kecil dan speedboat untuk sampai ke sana. Rata-rata pemukiman dan perkantoran di Asmat berada di atas rawa, sehingga tidak baik bagi kesehatan dan sulit diakses.
Meski begitu, Idrus menegaskan, tidak benar kalau ada anggapan bahwa kejadian di Asmat tidak tertangani.
“Tim terpadu dari seluruh elemen sudah terbentuk, terdiri dari dokter, TNI, polisi, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, dan elemen masyarakat,” Idrus menekankan.
Pengobatan juga sudah dilakukan, menurut Idrus. Pemerintah sudah mengirimkan bantuan bahan makanan.
“Stok bantuan makanan masih banyak dan sudah diatur untuk distribusi bertahap sesuai kebutuhan,” jelas dia.
Pemerintah, menurut Idrus, terus melakukan perawatan, pembinaan, serta pengembangan masyarakat Asmat agar terbebas dari wabah campak dan gizi buruk.
“Kita juga melakukan kajian dan analisis faktor-faktor yang memengaruhi mengapa ada campak dan gizi buruk,” imbuh dia.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen Sabrar Fadhilah mengatakan TNI akan beroperasi selama satu tahun penuh untuk membantu mengatasi masalah gizi buruk dan campak di Kabupaten Asmat.
Menurut dia, TNI juga tergabung ke dalam Satgas Kesehatan dan mengirimkan 260 orang personel. Pada awal-awal terdeteksinya KLB tersebut, TNI telah mengirim 55 orang ke Asmat.
Sabrar mengatakan TNI telah menerapkan tiga strategi untuk meminimalisir dampak KLB campak dan gizi buruk, yaitu merawat pasien yang terjangkit wabah, kemudian membawanya ke rumah sakit, serta memberikan imunisasi kepada masyarakat.