Shenny Fierdha Chumaira
14 Mei 2018•Update: 15 Mei 2018
Shenny Fierdha
JAKARTA
Polisi mengimbau agar masyarakat tidak mudah terpancing hoaks yang mengabarkan adanya serangan teroris di tempat-tempat tertentu menyusul serangan bom bunuh diri di Surabaya, Jawa Timur, pada Minggu dan Senin.
"Kami berharap agar masyarakat tetap waspada, khususnya tentang berita yang tidak jelas sumbernya. Kami mengimbau agar masyarakat tidak membagikan atau memposting kembali karena hanya menimbulkan ketakutan di masyarakat," ujar Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Kepolisian Negara Republik Indonesia Inspektur Jenderal Setyo Wasisto dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Senin.
Setelah serangan bom bunuh diri di Markas Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya pada Senin pagi, marak beredar di aplikasi pesan instan WhatsApp mengenai adanya ancaman teror di sejumlah tempat.
Beberapa tempat yang disebut masuk dalam ancaman teror itu di antaranya Gereja Santa Anna di Duren Sawit (Jakarta Timur), Bandar Udara Ahmad Yani Semarang (Jawa Tengah), Satpas Colombo di Surabaya (Jawa Timur), Bank Prima Surabaya, dan sejumlah pusat perbelanjaan elit di Jakarta.
Dia menegaskan bahwa semua ancaman yang menyasar tempat-tempat itu adalah palsu alias hoaks.
"Banyak sekali berita hoaks-nya. Setiap mendapat informasi [yang diduga hoaks], klarifikasikan saja ke Polda [Kepolisian Daerah] atau Mabes Polri. Kalau menemukan informasi di media sosial yang diduga hoaks, cek saja di media mainstream untuk mengetahui apakah kabar itu betul atau tidak," jelas Setyo.
Pada Minggu dan Senin, dua kota di Jawa Timur yakni Surabaya dan Sidoarjo diguncang serangkaian bom.
Yang pertama terjadi pada Minggu pagi di mana bom meledak di tiga gereja yaitu Gereja Santa Maria Tak Bercela, Gereja Pantekosta Arjuno, dan Gereja Diponegoro dan menewaskan 14 orang (termasuk enam orang pelaku bom bunuh diri yang sebetulnya satu keluarga) dan melukai 39 orang lainnya.
Selanjutnya pada Minggu malam, sebuah bom meledak di Rumah Susun Sewa (Rusunawa) Wonocolo, Sepanjang, Sidoarjo, dan menewaskan satu keluarga beranggotakan tiga orang.
Polisi menduga bom meledak tanpa sengaja karena bom meledak di rumah pelaku.
Terakhir, pada Senin pagi, terjadi ledakan bom bunuh diri di depan gerbang masuk Markas Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya yang menewaskan empat orang pelaku (juga sekeluarga) dan melukai enam orang lainnya termasuk anggota kepolisian.