Faruk Zorlu
ANKARA
Wakil perdana menteri Turki pada hari Senin mengatakan negaranya memiliki hak untuk menggelar operasi di mana pun ditemukan adanya ancaman terhadap Turki, sambil menyebut markas kelompok teroris PKK.
Berbicara kepada wartawan setelah pertemuan Kabinet di Ankara, Bekir Bozdag mengatakan tentang kemungkinan operasi militer di Gunung Qandil, Irak, yang dikenal sebagai markas PKK.
"Turki dapat memasuki Qandil, apa pun bisa terjadi."
“Di mana ada ancaman teroris ke Turki, berarti akan ada target untuk Turki. Baik teroris dan semua sumber terorisme adalah target untuk Turki,” tambahnya.
Serangan udara pada target PKK di Irak utara - di mana kelompok teror itu memiliki basis utama di wilayah Gunung Qandil, dekat perbatasan Iran - telah dilakukan secara teratur sejak Juli 2015 ketika PKK melanjutkan kampanye bersenjatanya.
Dalam kampanye lebih dari 30 tahun teroris melawan Turki, PKK telah bertanggung jawab untuk sekitar 40ribu nyawa.
Manbij dan tentara buronan di Yunani
Tentang penarikan teroris YPG / PKK dari kota Manbij, Suriah utara, Bozdag mengatakan peta jalan di Manbij yang memastikan keamanan dan stabilitasnya akan dilaksanakan dengan sebuah jadwal yang telah ditentukan.
Mengunjungi Washington pada hari Senin, Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu berbicara dengan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo tentang peta jalan tersebut.
"Kami berharap bahwa Amerika Serikat, sebagai sekutu, akan berdiri dengan Turki," kata Bozdag.
Januari ini Turki meluncurkan Operasi Ranting Zaitun di Afrin, Suriah utara untuk membersihkan kelompok-kelompok teroris dari daerah itu.
Setelah membebaskan kota Afrin, Ankara mengatakan kemungkinan bakal memperluas operasinya lebih ke timur yakni ke Manbij, kecuali jika kelompok teroris PYD / PKK meninggalkan kota strategis itu.
Namun, dukungan militer AS untuk kelompok teroris PYD / PKK di Manbij akhirnya menciptakan hubungan yang tegang antara Ankara dan Washington. Dan belakangan ketegangan itu telah menyebabkan kekhawatiran bentrokan militer antara kedua sekutu NATO, karena ada sekitar 2.000 pasukan AS di kota itu.
Mengenai delapan tentara Turki yang melarikan diri ke Yunani - yang dituduh terlibat dalam kudeta yang dikalahkan pada tahun 2016 oleh Kelompok Teroris Fetullah (FETO) - Bozdag mengecam kegagalan Yunani untuk mengembalikan mereka ke Turki, dan menyebut telah "memberi mereka berbagai peluang dan perlindungan."
"Tidak peduli apa yang mereka lakukan, adalah tugas kami untuk menemukan hubungan tentara ini ke FETO dan membawa mereka kembali ke Turki terlepas dari mana pun mereka pergi," tambahnya.
Pada bulan Januari, Mahkamah Agung Yunani memutuskan untuk tidak mengekstradisi mantan tentara - sebuah langkah yang disebut Turki "bermotif politik".
Turki telah berulang kali menyerukan ekstradisi terhadap orang-orang yang diduga melakukan kudeta, termasuk selama kunjungan resmi Presiden Recep Tayyip Erdogan ke Yunani pada Desember lalu.
Para tentara itu tiba di wilayah Thrace, Yunani, dengan helikopter militer beberapa jam setelah kudeta pada 15 Juli 2016 berhasil dikalahkan.