Berk Kutay Gokmen
10 Juni 2026•Update: 10 Juni 2026
Perang yang melibatkan Iran semakin memperburuk krisis kelaparan global dan meningkatkan risiko kerawanan pangan tingkat darurat bagi jutaan orang di berbagai negara, menurut Program Pangan Dunia (WFP) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Pelaksana Tugas Direktur Eksekutif WFP Carl Skau mengatakan dampak lanjutan dari konflik tersebut telah memperbesar ancaman terhadap kelompok masyarakat yang paling rentan di dunia.
Dalam laporan yang dirilis CNN pada Rabu (10/6), Skau menyatakan bahwa penutupan Selat Hormuz telah memicu lonjakan tajam biaya bahan bakar, yang meningkatkan biaya operasional badan PBB itu sekaligus mendorong kenaikan harga pangan secara global.
Penutupan jalur pelayaran strategis tersebut juga mengganggu pengiriman pupuk dari kawasan Teluk, sehingga memengaruhi produksi pertanian di sejumlah negara, termasuk Sudan.
Tekanan itu terjadi ketika WFP sedang menghadapi kekurangan pendanaan yang serius.
"Di banyak tempat, kami kini harus mengambil bantuan dari mereka yang lapar untuk diberikan kepada mereka yang kelaparan parah," kata Skau.
WFP, yang bergantung pada sumbangan pemerintah, mengalami penurunan dukungan yang signifikan, termasuk dari donor terbesarnya, Amerika Serikat.
Pendanaan AS untuk WFP pada 2026 tercatat sekitar 731 juta dolar AS, turun drastis dibandingkan lebih dari 4 miliar dolar AS pada 2024.
Skau menuturkan bahwa di negara-negara termiskin, kenaikan harga pangan berdampak langsung pada konsumsi masyarakat.
"Ketika harga makanan naik 20 hingga 30 persen, maka mereka akan makan 20 hingga 30 persen lebih sedikit," ujarnya.
WFP sebelumnya telah memperingatkan pada Maret lalu bahwa sekitar 45 juta orang tambahan dapat menghadapi kelaparan akut apabila harga minyak bertahan di atas 100 dolar AS per barel.
Menurut Skau, dampak tersebut kini mulai dirasakan di Sri Lanka, Somalia, dan Afghanistan.
Ia menambahkan bahwa sekalipun Selat Hormuz dibuka kembali segera, proses pemulihan tidak akan berlangsung cepat.
"Pemulihan akan membutuhkan waktu. Kami berharap konflik ini berakhir dan Selat Hormuz dibuka kembali besok. Namun jelas bahwa negara-negara kaya perlu meningkatkan dukungan mereka untuk membantu mengurangi dampak krisis ini terhadap kelompok yang paling rentan," kata Skau.