Iqbal Musyaffa
30 Juli 2020•Update: 30 Juli 2020
JAKARTA
Indonesia kembali membuka penempatan tenaga kerja ke 14 negara dengan mengedepankan protokol kesehatan dalam upaya mempercepat pemulihan ekonomi nasional.
Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah mengatakan 14 negara tersebut antara lain Aljazair, Australia, Hongkong, Korea Selatan, Kuwait, Maladewa, Nigeria, Uni Emirat Arab, Polandia, Qatar, Taiwan, Turki, Zambia, dan Zimbabwe.
“Penempatan kembali tenaga kerja Indonesia dengan memperhatikan kebijakan beberapa negara penempatan yang sudah membuka tenaga kerja asing masuk,” jelas Menteri Ida dalam konferensi pers virtual, Kamis.
Oleh karena itu, dia menilai perlu kembali dibuka kesempatan bagi calon pekerja migran Indonesia untuk dapat bekerja di negara tujuan penempatan dengan tetap mengedepankan prinsip perlindungan hak-hak pekerja migran serta protokol kesehatan.
Menteri Ida menjelaskan dari sisi persiapan, baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan perwakilan RI di negara-negara penempatan hampir semua menyatakan siap.
“Sudah dipastikan juga kebijakan dan regulasi dari negara-negara yang akan dibuka telah kondusif,” tambah dia.
Menteri Ida mengatakan berdasarkan data dari Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), terdapat 88.973 calon pekerja migran Indonesia sudah terdaftar di SISKOP2MI yang siap berangkat atau sudah melalui proses tahapan-tahapan sebagai syarat untuk bekerja ke luar negeri.
“Sebanyak 88.973 calon pekerja migran tersebut sedianya akan berangkat ke 22 negara tujuan,” jelas dia.
Menteri Ida mengatakan potensi remitensi yang dihasilkan oleh para pekerja migran Indonesia tersebut cukup besar dan diharapkan dapat menjadi pengungkit percepatan pemulihan ekonomi, khususnya di tingkat desa atau daerah asal pekerja migran Indonesia tersebut.
“Berdasarkan data dari Bank Indonesia, jumlah remitansi pada tahun 2019 sebesar Rp160 triliun,” ujar Menteri Ida.
Selain itu, dia mengatakan berdasarkan hasil survei Bank Dunia bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik Bank Dunia diperkirakan ada sekitar 9 juta pekerja migran Indonesia di luar negeri.
“Merujuk pada kedua data tersebut, maka dari 88.973 calon pekerja migran Indonesia berpotensi menghasilkan devisa sekitar Rp1,5 triliun,” pungkas Menteri Ida.