Nicky Aulia Widadio
27 Agustus 2019•Update: 27 Agustus 2019
JAKARTA
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah titik panas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia telah menurun seiring mulai turunnya hujan di beberapa wilayah.
Berdasarkan pemantauan pada 24 jam terakhir melalui satelit, terdapat 66 titik panas dengan kategori tinggi dan 291 titik panas dengan kategori sedang.
“Beberapa wilayah mengalami hujan, sehingga bisa menekan hotspot,” ujar Pelaksana harian Kepala Pusat Data, Humas dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo ketika dihubungi, Selasa.
Berdasarkan pemantauan Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sejak 25 Agustus hingga 26 Agustus 2019, hujan dengan intensitas ringan telah turun di Kalimantan Tengah dan sebagian wilayah Riau.
Jumlah titik panas di Indonesia pernah mencapai 1.092 titik pada 15 Agustus 2019 lalu. Riau dan Kalimantan Tengah menjadi provinsi yang paling terdampak karhutla.
Menurut Agus, hujan yang turun di Riau juga membantu memperbaiki kualitas udara pada konsentrasi partikulat (PM) 10 kembali ke kategori baik.
Kualitas udara di Pekanbaru sebelumnya pernah mencapai kategori tidak sehat akibat asap kebakaran hutan.
BMKG memprediksi musim kemarau akan berlangsung hingga Oktober, sehingga titik panas akan tetap ada hingga musim kemarau berakhir.
BNPB, Polri dan TNI telah menurunkan 9.072 personel untuk menangani karhutla di sejumlah provinsi. Selain itu, 34 heli telah dikerahkan untuk water bombing.
Sebelumnya Presiden Joko Widodo mengklaim angka karhutla pada 2019 menurut 81 persen dibandingkan 2015 lalu.
Namun jika dibandingkan tahun 2018 kata dia, kebakaran hutan dan lahan pada 2019 meningkat.