Hayati Nupus
23 Mei 2019•Update: 24 Mei 2019
Hayati Nupus
JAKARTA
Polisi mengungkapkan ada kelompok terafiliasi Daesh atau lebih dikenal ISIS, yang turut menunggangi aksi demonstrasi penolakan hasil hitung KPU 21-22 Mei kemarin.
Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol M Iqbal mengatakan kelompok terafiliasi Daesh itu adalah Gerakan Reformis Islam (GARIS), organisasi yang pernah berbaiat kepada Daesh dengan dewan syuro Abu Bakar Baasyir.
“Kelompok ini tidak main-main pada yang tidak sealiran dengan mereka,” ujar Iqbal, Kamis, di Jakarta.
Iqbal mengatakan polisi menangkap dua orang tersangka dari kelompok GARIS itu di antara para peserta demonstrasi.
Mereka, lanjut Iqbal, berasal dari luar Jakarta dan berdasarkan keterangan, keduanya datang ke ibu kota untuk “berjihad” saat aksi unjuk rasa 21-22 Mei.
“Kami menemukan bukti-bukti yang sangat kuat,” ujar Iqbal.
Selain berbaiat kepada Daesh, imbuh Iqbal, kelompok GARIS juga pernah mengirimkan kadernya untuk berperang di Suriah.
Informasi detail mengenai kedua tersangka dan bagaimana jaringannya, kata Iqbal, akan dirilis kemudian.
Polisi, tambah Iqbal, masih mencari beberapa tokoh kelompok GARIS lainnya yang juga berperan menunggangi aksi demonstrasi.
Iqbal menjelaskan selain kelompok terafiliasi Daesh, penunggang aksi demonstrasi lainnya adalah kelompok anarkis bertato yang membawa senjata api berlaras panjang dan pendek, peluru, juga bom molotov.
Mereka melemparkan batu, bom molotov dan membakar asrama Brimob Petamburan.
GARIS berdiri di Cianjur, Jawa Barat, pada 24 Juni 1998, dua pekan setelah runtuhnya Orde Baru, dengan tujuan untuk menegakkan syariat Islam di Indonesia.
Salah satu pendirinya adalah Cecep atau Chep hernawan, putra sulung Ahmad Syafe’I alias Haji Dapet yang pernah terlibat kerusuhan Tanjung Priok pada 1984.
Anggota GARIS tersebar di berbagai wilyah di Indonesia, di antaranya di Aceh dan Sumatera Utara.