JAKARTA
Komite Nasional Penilai Obat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengatakan belum ada obat yang sudah teruji bisa menyembuhkan infeksi Covid-19 sejauh ini.
Anggota Komite Nasional Penilai Obat BPOM Anwar Santoso menuturkan seluruh kandidat obat yang diteliti masih dalam fase uji klinik.
“Beberapa uji klinik sedang dilaksanakan dan direview oleh BPOM, tetapi sampai saat ini belum ada statement terkait obat yang manjur untuk Covid-19,” kata Anwar dalam konferensi pers virtual di Graha BNPB, Selasa.
Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 Kemenristek Ali Ghufron Mukti juga menuturkan hal serupa.
Menurut Ali, saat ini ada beberapa kombinasi obat yang sedang diteliti seperti lopinavir dengan ritonavir, azitromisin, dan lain-lain.
“Tetapi belum ada satu pun yang kita bisa klaim sebagai obat untuk Covid-19, meskipun banyak yang mengatakan penelitian atau tidak,” kata Ali.
Sebelumnya, Tim peneliti dari Universitas Airlangga, Badan Intelijen Negara, dan TNI Angkatan Darat mengklaim telah menemukan kombinasi obat untuk Covid-19 pertama di dunia.
Rektor Universitas Airlangga Mohammad Nasih menuturkan obat Covid-19 tersebut merupakan kombinasi berbagai macam obat tunggal yang telah diberikan kepada pasien Covid-19 di berbagai negara.
Kesimpulan yang didapat tim peneliti Unair, ada tiga kombinasi obat yang diklaim efektif yakni lopinavir-ritonavir-azithromycin, kemudian lopinavir-ritonavir-doxycycline, serta hydrochloroquine dan azithromycin.
Tiga kombinasi itu diambil dari total lima kombinasi yang mulanya diteliti.
“Kami ambil tiga tersebut karena efektivitasnya mencapai 98 persen dan kami lakukan uji klinis dengan mengujinya secara acak di lapangan,” jelas Nasih.
Nasih juga meminta BPOM dapat memperlancar izin produksinya sehingga obat tersebut dapat segera dimanfaatkan.
Terapi untuk pasien
Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, dr Agus Dwi Santoso menuturkan sejauh ini terapi terhadap pasien Covid-19 disesuaikan dengan tingkat gejala yang dialami oleh pasien.
Ada beberapa penggunaan obat yang digunakan untuk saat ini. Pasien tanpa gejala, menurut Agus, biasanya cukup diberikan vitamin.
Sedangkan untuk pasien dengan gejala sedang dan berat menuturkan ada beberapa pilihan obat yang digunakan berdasarkan literatur dan kajian yang disepakati.
Pilihan pertama yakni kombinasi antara azithromycin atau levofloksasin, pilihan kedua yakni kombinasi klorokuin atau hodroksiklorokuin, serta pilihan ketiga yakni oseltamivir, favipiravir, lopinavir dan ritonavir, dan remdesivir.
“Obat-obat itu lah yang digunakan di Indonesia sejak ada kasus,” kata Agus.
Namun, dia menegaskan belum ada riset telah membandingkan efektivitas dari ketiga jenis pilihan tersebut.
“Selama ini penggunaannya berdasarkan izin emergency use dari BPOM,” tutur dia.
Agus menuturkan studi pra-eliminasi di rumah sakit darurat seperti Wisma Atlet menunjukkan bahwa 99,3 persen pasien sembuh dengan panduan pengobatan tersebut.
Sedangkan di Rumah Sakit Persahabatan, 100 persen kasus ringan sembuh, 96,4 persen pasien kasus gejala sedang sembuh, sementara pada kasus bergejala berat kemungkinan sembuhnya kecil, dan pada kasus kritis sebanyak 79,6 persen meninggal.
news_share_descriptionsubscription_contact
