Rania Abushamala
30 Juli 2026•Update: 30 Juli 2026
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran pada Kamis menyatakan Selat Hormuz tidak dapat dibuka kembali selama ancaman dan campur tangan Amerika Serikat terhadap lalu lintas maritim di kawasan masih terus berlangsung.
Dalam pernyataannya, IRGC mengatakan pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut tidak mungkin dilakukan selama "retorika ancaman" para pejabat Amerika Serikat dan campur tangan mereka terhadap pergerakan kapal di kawasan belum dihentikan.
"Selat Hormuz tidak dapat dibuka kembali selama retorika dan ancaman para pejabat Amerika Serikat serta campur tangan mereka dalam pergerakan maritim di kawasan terus berlanjut," demikian pernyataan IRGC.
IRGC memperingatkan bahwa ancaman dan campur tangan yang terus berlanjut akan membuat situasi menjadi "semakin sulit dan semakin rumit."
IRGC juga mengklaim dua kapal tanker minyak, yang disebut bergerak atas dorongan pesawat militer Amerika Serikat, berupaya melintasi jalur yang disebutnya sebagai "rute tidak aman" di sebelah selatan Selat Hormuz pada malam hari.
Menurut IRGC, kedua kapal tersebut segera berbalik arah setelah salah satu kapal mengalami kebakaran besar.
"Selat Hormuz adalah wilayah kami, dan Angkatan Laut IRGC mengendalikannya dengan tegas," demikian bunyi pernyataan itu, seraya menambahkan bahwa tidak ada kekuatan asing yang datang dari "ribuan kilometer jauhnya" yang akan diizinkan mencampuri urusan kawasan tersebut.
Sebelumnya, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan pasukan Amerika Serikat telah melancarkan "gelombang besar" serangan terhadap Iran sebagai respons atas dugaan upaya serangan rudal yang menargetkan pasukan Amerika Serikat di Timur Tengah.