Pizaro Gozali İdrus
06 Maret 2019•Update: 07 Maret 2019
Pizaro Gozali
JAKARTA
Kazakhstan ingin mengembangkan ekosistem industri halal dengan fokus pada makanan, minuman, dan keuangan syariah sambil bekerja sama dalam pengembangan industri halal dengan Malaysia, lansir New Straits Times pada Selasa.
Penasihat Kedutaan Besar Kazakhstan di Malaysia, Serik Amirov mengatakan mereka ingin memperluas kerja sama dengan Malaysia di bidang e-commerce, layanan kesehatan, keamanan dunia maya, dan sektor energi terbarukan.
Populasi Muslim Kazakhstan mencapai sekitar 70 persen dari total penduduk yang berjumlah 18,3 juta jiwa.
Amirov mengatakan Malaysia adalah negara sahabat dan mitra terpercaya Kazakhstan di Asia Tenggara.
Hingga hari ini, kata dia, perusahaan Malaysia dan Kazakhstan sedang melaksanakan proyek pada bidang minyak dan gas, konstruksi dan energi terbarukan dengan jumlah total hampir USD1 miliar.
Dia mengatakan perdagangan kedua negara telah meningkat hampir empat kali lipat dari USD 123 juta pada 2017 menjadi menjadi USD 478 juta pada 2018.
Dari jumlah itu, USD351 juta berasal dari ekspor minyak mentah Kazakhstan ke Malaysia.
Sementara USD127 juta berasal dari ekspor Malaysia terutama minyak kelapa sawit, karet, tekstil, dan barang-barang elektronik.
"Saat ini, kami memperluas kerja sama kami di bidang keuangan Islam, pertanian, industri halal, e-commerce, perawatan kesehatan, keamanan informasi dan banyak sektor lainnya," kata dia.
Kazakhstan telah menaikkan persyaratan visa hingga 30 hari untuk warga negara dari 45 negara termasuk Malaysia sejak 1 Januari 2017.
"Kebijakan ini dirancang untuk mempromosikan iklim investasi yang lebih menguntungkan di Kazakhstan dan mengembangkan potensi pariwisata negara itu," kata dia.