Muhammad Nazarudin Latief
18 September 2019•Update: 18 September 2019
JAKARTA
Malaysia masih mencari solusi untuk masalah pada Malaysia Airlines, ujar Perdana Menteri Mahathir Mohamad.
"Itu tidak mudah ... kami telah melakukan banyak hal. Pemerintah sebelumnya memberi mereka RM6 miliar dan memecat 6.000 orang. Di samping itu, mengurangi jumlah penerbangan.
"Jadi, jika Anda mengurangi personel dan jumlah penerbangan, rasio antara personel dan aktivitas tidak berubah," katanya dalam wawancara dengan stasiun radio BFM, seperti dilansir Bernama.
Perdana Menteri Mahathir mengatakan beberapa perusahaan mungkin mengambil saham maskapai tersebut, namun dia juga memperhatikan keinginan beberapa orang yang sangat sentimental ingin melihat perusahaan tersebut tetap dimiliki oleh warga Malaysia.
"Tapi, tidak ada investor Malaysia yang cukup kuat untuk mengambilnya," dia menjelaskan.
Menurut dia, tidak mudah menentukan tenggat waktu bagi pemerintah untuk memutuskan nasib maskapai itu.
Untuk meniru strategi Proton Holding dengan menjualnya ke Zhejiang Geely Holding Group China, juga sulit dilakukan.
"Malaysia Airlines telah mengalami banyak perubahan, termasuk perubahan dalam manajemen dan pemecatan 6.000 pekerja .. namun kerugiannya tetap tinggi," kata Mahathir.
Perdana menteri juga mencatat bahwa ketika maskapai nasional itu didirikan, belum ada persaingan dari maskapai berbiaya rendah.
Ini, kata dia, mempengaruhi tidak hanya Malaysia Airlines, tetapi banyak maskapai lainnya.
Sementara itu, pada akhir pekan lalu, harian bisnis melaporkan bahwa Japan Airlines mungkin mengakuisisi saham di Malaysia Airlines.
Sebelumnya dalam wawancara, Mahathir mengatakan pemerintah berusaha melepaskan properti yang tidak begitu penting baik di dalam maupun luar negeri untuk membayar utang besar yang diwarisi pemerintahan Pakatan Harapan dari pemerintah sebelumnya.
“Kami harus mencari harga yang bagus. Kami memiliki properti di Hong Kong, Singapura dan negara-negara lain, tidak hanya di rumah, ” ujar dia.