Pizaro Gozali Idrus
21 Juli 2022•Update: 22 Juli 2022
JAKARTA
Utusan khusus ASEAN untuk krisis di Myanmar merencanakan perjalanan resmi ketiga ke negara yang dilanda krisis dan bahwa jika bertemu Aung San Suu Kyi, ingin menggunakan pengaruhnya untuk mengakhiri konflik.
Berkata pada Channel News Asia pada Rabu, Prak Sokhonn, yang juga wakil perdana menteri dan menteri luar negeri Kamboja, berharap untuk melakukan perjalanan ini pada minggu kedua September, menjelang pertemuan Majelis Umum PBB berikutnya, yang akan berlangsung dari 13 September hingga 27 September di New York.
Dalam dua perjalanan resmi sebelumnya, Sokhonn ditolak aksesnya ke Aung San Suu Kyi oleh militer Myanmar.
Pemimpin yang digulingkan itu ditahan di sel isolasi di penjara Naypyidaw.
Junta telah berulang kali menolak permintaan Kamboja untuk bertemu Aung San Suu Kyi, dengan alasan persidangannya sedang berlangsung, yang mencakup berbagai tuduhan korupsi dan kecurangan pemilu.
Namun Suu Kyi menyangkal semua tuduhan.
“Hal terpenting yang akan kami tanyakan, atau diskusikan dengannya, adalah tentang pandangannya tentang masa depan Myanmar. Bagaimana dia melihat jalan keluar dari krisis, bagaimana pengaruh politiknya dapat memberi bobot pada proses politik, dialog politik yang dapat mengarah pada perdamaian dan rekonsiliasi," ungkap Sokhon.
“Poin lain adalah menanyakan padanya bagaimana prinsip non-kekerasan dapat mempengaruhi semua faksi bersenjata untuk menghentikan kekerasan,” katanya.
“Ketika semua angkatan bersenjata berhenti berperang satu sama lain, suatu hari mereka harus datang ke meja perundingan, dan kemudian jalan akan terbuka lebar untuk negosiasi perdamaian dan rekonsiliasi nasional.
Sokhonn mengatakan bahwa dalam kunjungannya sebelumnya ke Myanmar pada Juni 2022, panglima militer Min Aung Hlaing telah mengatakan kepadanya bahwa pertemuan dengan Aung San Suu Kyi saat itu belum memungkinkan tetapi itu bisa terjadi “pada tahap selanjutnya".