Pizaro Gozali Idrus
14 Juli 2022•Update: 22 Juli 2022
JAKARTA
Duta Besar Turki untuk Indonesia Aşkın Asan mengatakan komunitas internasional belum mengambil tindakan yang diperlukan terhadap FETO sejak kudeta gagal yang dilakukan organisasi teroris itu terhadap Turki pada enam tahun lalu.
Asan mengatakan hingga saat ini FETO masih hadir di sekitar 160 negara, dengan ratusan sekolah, bisnis, LSM dan media.
“Modus operandi mereka sama di seluruh dunia. Karena mereka bertujuan untuk menyusup dan memperbesar pengaruh ekonomi dan politik global mereka, mereka merupakan ancaman keamanan langsung bagi negara mana pun tempat mereka beroperasi,” terang Asan dalam keterangan tertulisnya kepada Anadolu Agency pada Kamis.
Asan mengungkapkan Kedutaan Besar Turki di seluruh dunia aktif terlibat dalam menjelaskan ancaman berat yang ditimbulkan FETO. Tidak hanya untuk Turki, tetapi juga untuk negara demokrasi lain di dunia.
Namun, lanjut dia, di beberapa negara, FETO dan kelompok afiliasinya terus beroperasi dengan menyamar sebagai lembaga pendidikan dan kampanye budaya.
“Meskipun banyak seruan untuk ekstradisi oleh Pemerintah Turki, sangat mengecewakan melihat Fethullah Gülen, pemimpin organisasi ini masih tinggal di pengasingan di rumahnya yang mewah di Amerika Serikat,” terang Asan.
Asan mengingatkan terorisme hanya bisa dilenyapkan melalui solidaritas antarbangsa.
Menurut dia, menoleransi kelompok teroris yang haus kekuasaan dan darah hanya karena mereka tidak menimbulkan ancaman langsung seharusnya bukanlah menjadi sebuah pilihan, “karena toleransi sekecil apa pun untuk kelompok-kelompok ini menciptakan tempat berkembang biak bagi cita-cita dan ambisi mereka,” tukas Asan.
Asan menambahkan 15 Juli 2016 merupakan tanggal yang menandai insiden yang berbahaya dalam sejarah Turki.
Upaya kudeta yang gagal itu, terang Asan, akan selalu dikenang sebagai hari kesedihan dan pengkhianatan, sekaligus hari kemenangan melawan pelaku kejahatan.
“Enam tahun telah berlalu peristiwa traumatis ini. Mereka yang terlibat ditemukan bertanggung jawab atas sejumlah tuduhan kriminal dan dimasukkan ke balik jeruji besi. Sejak saat itu, para anggota dan pengikut FETO telah disingkirkan dari lembaga-lembaga negara Turki. Beberapa dari proses peradilan terhadap para komplotan kudeta ini masih berlangsung sesuai dengan hak-hak dasar, kebebasan, serta supremasi hukum,” ucap dia.
FETO dan pemimpinnya yang berbasis di AS Fetullah Gulen merencanakan kudeta yang digagalkan pada 2016, di mana 251 orang tewas dan 2.734 lainnya terluka.
Ankara juga menuduh FETO berada di balik kampanye jangka panjang untuk menggulingkan negara melalui infiltrasi ke lembaga-lembaga Turki, khususnya militer, polisi, dan peradilan.