ANKARA
Kondisi di Afghanistan telah berubah dan Turki sedang mengevaluasi situasi baru di sana sebelum mengambil keputusan tentang perannya di masa depan di bandara Kabul, kata Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu pada Rabu.
Cavusoglu mengatakan terlalu dini untuk membahas apakah Turki membatalkan rencananya untuk terus melindungi dan mengoperasikan bandara Internasional Hamid Karzai.
Menyoroti Turki memiliki kegiatan militer di Bandara Kabul, Cavusoglu mengatakan “Ada kekacauan di penerbangan sipil. Ada juga masalah dengan pendaratan dan lepas landas pesawat. Sayangnya, beberapa orang meninggal di sana. Kami sangat sedih.”
Menlu Cavusoglu mengatakan bahwa evakuasi sedang berlangsung dari bandara, menambahkan "Turki telah membawa kembali sejumlah warganya."
Turki bekerja dengan negara lain, terutama AS, dalam evakuasi dan masalah lain di bandara, kata Cavusoglu, seraya menambahkan bahwa prioritas negaranya adalah mengevakuasi sisa warga Turki yang ingin pulang.
“Saat ini prioritas kami berbeda. Kami akan membuat keputusan terkait keberadaan tentara kami atas instruksi Presiden kami (Recep Tayyip Erdogan),” tutur dia.
Pada Rabu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa lebih dari 500 warga Turki telah dievakuasi dari Afghanistan.
Politisi Afghanistan dan negosiasi Taliban
Cavusoglu mengatakan bahwa negosiator perdamaian utama Afghanistan Abdullah Abdullah, mantan Presiden Hamid Karzai, dan politisi terkemuka Gulbuddin Hekmatyar sedang bernegosiasi dengan Taliban.
“Kami berharap mereka dapat mencapai kesepakatan di antara mereka sendiri dengan cara damai,” ujar Cavusoglu.
Dia mengatakan, seperti semua negara lain termasuk AS, Turki bersedia menjalin hubungan dengan Taliban dalam upaya untuk melindungi kepentingannya.
“Bukan berarti kami menyetujui aturan atau ideologi mereka. China, Rusia, Iran semuanya bernegosiasi dengan Taliban. Semua orang bersikap pragmatis,” tambah dia.
Menlu Turki menekankan dia menyambut baik pengumuman Taliban bahwa mereka tidak akan menyerang kedutaan besar, misi diplomatik, dan orang asing di negara itu.
"Kami juga mengatakan, 'kami menyambut pesan mereka', tetapi kami mengatakan bahwa kami berhati-hati, yaitu, kami harus melihat mereka dalam praktik di lapangan," tutur Cavusoglu.
Pada Selasa, Cavusoglu mengatakan bahwa Turki sedang berdialog dengan semua pihak di Afghanistan, termasuk Taliban.
"Kami ingin mengatakan bahwa kami menyambut baik pesan yang diberikan oleh Taliban sejauh ini," ungkap dia kepada wartawan saat konferensi pers bersama sejawatnya dari Yordania Ayman al-Safadi di ibu kota Amman.
Penarikan pasukan AS tinggalkan kekacauan
Menurut menteri Turki, penarikan AS dari Afghanistan “tidak direncanakan.” Dia mengatakan hal ini kepada Menteri Luar Negeri AS (Antony) Blinken.
Mengacu pada konferensi pers Presiden AS Joe Biden pada Senin di mana dia membela keputusannya untuk menarik semua pasukan Amerika dari Afghanistan, Cavusoglu mengatakan, “Biden mencoba membela diri, tetapi mereka bertahan selama 20 tahun, dan tiba-tiba pergi tanpa rencana keluar.”
“Mereka membuat kesalahan yang sama di Irak,” tambah dia.
Cavusoglu mengatakan penarikan AS yang "tiba-tiba dan tidak direncanakan" dari Afghanistan meninggalkan kekacauan.
Biden mengatakan bahwa AS memberi Afghanistan "setiap kesempatan untuk menentukan masa depan mereka sendiri."
Tentang hak-hak perempuan dan anak-anak di Afghanistan, Cavusoglu mengatakan bahwa Turki selalu “sensitif” tentang masalah ini.
“Kami ingin perempuan bebas menggunakan semua hak mereka di Afghanistan,” tambah dia.
Sebagai bagian dari kesepakatan damai yang dicapai pada Februari 2020 antara AS dan Taliban, tahun ini pasukan internasional memulai penarikan mereka dari Afghanistan.
Perjanjian tersebut menekankan bahwa Taliban tidak boleh menyerang pasukan asing, tetapi tidak ada ketentuan tentang tindakannya terhadap pasukan keamanan Afghanistan.
Sambil mempertahankan negosiasi dengan pemerintah di Doha, Qatar, Taliban mengintensifkan serangannya sejak Juni, menguasai banyak distrik dan pusat provinsi dalam sebulan terakhir.
Taliban pada Minggu merebut ibu kota Kabul, dan Presiden Ashraf Ghani serta pejabat penting lainnya melarikan diri dari negara itu.