Fatma Zehra Solmaz
28 April 2026•Update: 28 April 2026
Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan menyatakan dunia tengah mengalami transformasi cepat yang didorong teknologi dan kecerdasan buatan, yang disebutnya sebagai gelombang perubahan tenaga kerja setara dengan Revolusi Industri.
Berbicara dalam KTT Keterampilan OECD ke-6 di Istanbul pada Senin, Erdogan mengatakan dunia kerja dan produksi berubah dengan cepat, di mana sejumlah pekerjaan baru muncul sementara yang lain menghilang, sehingga sumber daya manusia menjadi faktor penentu keberhasilan negara di masa depan.
Ia menyoroti pesatnya perkembangan robotika dan kecerdasan buatan yang menghadirkan peluang sekaligus tantangan.
“Pasar robotika global yang saat ini sekitar 100 miliar dolar AS diperkirakan mencapai 25 triliun dolar AS pada 2050. Di beberapa negara, fasilitas produksi otomatis penuh yang dikenal sebagai ‘dark factories’ semakin meluas,” ujarnya.
“Bahkan hanya dengan melihat fenomena ‘dark factories’ saja sudah cukup untuk menunjukkan bahwa kita menghadapi gelombang transformasi tenaga kerja seperti Revolusi Industri,” tambahnya.
Erdogan juga menyoroti ketimpangan struktural di banyak negara, di mana perempuan, migran, dan pelajar dari kelompok rentan sering kali tidak dapat mengembangkan potensi secara maksimal.
“Tidak ada negara yang dapat mencapai pembangunan kuat jika sebagian besar sumber daya manusianya tidak dimanfaatkan,” katanya.
Ia menyebut Turkiye berhasil menurunkan tingkat pekerjaan informal dari lebih dari 52 persen pada awal 2000-an menjadi 24 persen pada 2025, yang disebutnya sebagai capaian terbaik pasar tenaga kerja dalam 23 tahun.
Erdogan menambahkan visi “Abad Turkiye” bertumpu pada penguatan sumber daya manusia dan membutuhkan kerja sama antara pemerintah, sektor swasta, universitas, serikat pekerja, pemerintah daerah, serta masyarakat sipil.
Ia juga mengatakan pendidikan vokasi telah diperkuat dan lebih terintegrasi dengan dunia usaha melalui berbagai program pengembangan keterampilan bagi generasi muda.
“Target kami adalah menciptakan lapangan kerja bagi 3 juta anak muda dalam tiga tahun ke depan,” ujarnya.
Erdogan turut menyoroti peningkatan partisipasi perempuan dalam angkatan kerja di Turkiye, yang naik dari 27,9 persen menjadi 34,7 persen, sementara tingkat pekerjaan perempuan meningkat dari 25,3 persen menjadi 31,7 persen, dan keterwakilan perempuan di sektor publik naik dari 34,2 persen menjadi 43,38 persen dalam 12 tahun terakhir.
Ia juga menyebut reformasi hukum terbaru yang memperpanjang cuti melahirkan bagi ibu bekerja menjadi 24 minggu.
Presiden menekankan pentingnya peran OECD dalam mendorong dialog internasional dan menyediakan analisis kebijakan, terutama di tengah perubahan dinamika geopolitik dan ekonomi global. Turkiye, katanya, menghargai kontribusi Pusat OECD Istanbul dalam hal tersebut.