24 Juli 2017•Update: 25 Juli 2017
Hayati Nupus
JAKARTA
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama masyarakat Lombok Timur melepas lebih dari 15.000 ekor spat kerang mutiara jenis Pinctada Maxima di lepas perairan Gili Londo, Sambalia, Lombok Timur, Kamis.
Spat kerang ini hasil pembenihan buatan yang dilakukan Balai Perikanan Budidaya Laut Lombok (BPPL).
Menteri KKP Susi Pudjiastuti mengatakan penyediaan kembali (restocking) adalah program prioritas KKP demi menjamin keberlanjutan budidaya perikanan Indonesia. Upaya ini penting sebagai antisipasi kelangkaan induk beberapa spesies ikan ekonomis.
Di sisi lain, “Kita harus hentikan upaya eksploitasi sumber daya ikan bagi komoditas terancam,“ tegas Susi, Jumat, di sela-sela retreat KKP di KM Kelud.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto mengiyakan pernyataan Susi. Saat ini terjadi penurunan ketersediaan induk kerang mutiara di alam akibat penangkapan berlebihan (over exploitative). Perusahaan pembenih mutiara mulai kesulitan memperoleh sumber induk di alam.
Padahal perairan Indonesia, khususnya Pulau Lombok, dikenal dunia sebagai habitat asli kerang mutiara jenis Pinctada Maxima. Di jagat internasional, kerang ini dikenal dengan sebutan The Queen of Pearl atau Ratunya Mutiara.
Slamet bertukas langkanya sumber induk mutiara ini “sangat mengkhawatirkan bagi keberlangsungan spesies dan keberlanjutan bisnis mutiara di Indonesia”.
KKP juga mendorong unit-unit pembenihan kerang mutiara swasta untuk melakukan hal serupa di perairan potensial seluruh Indonesia. Karena eksploitasi sumber alam tak bisa terus-menerus diandalkan, “Budidaya menjadi satu-satunya penyangga sumber daya kelautan dan perikanan,” kata Slamet.