Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Hari raya Idul Adha atau Idul Kurban dilaksanakan setiap tanggal 10 Dzulhijjah di seluruh dunia. Lazimnya, hari raya ini dilaksanakan dengan pemotongan hewan kurban. Namun ternyata, beberapa warga Indonesia yang berada di luar negeri tak bisa menjalani meriahnya Idul Adha seperti di sini.
Dito Alif Pratama yang kini sedang menjalani studi di Vrije Universiteit Amsterdam, misalnya, bercerita tak ada pemotongan hewan kurban di Belanda karena tak diperbolehkan oleh otoritas setempat.
“Di Belanda itu unik. Meskipun dilarang, tapi komunitas muslim tetap berkurban dalam bentuk uang,” ungkapnya kepada Anadolu Agency.
Panitia kurban di Amsterdam biasanya menerima uang dari masyarakat yang ingin berkurban, untuk kemudian disalurkan ke Indonesia dan Palestina. Setelah uang sampai di negara tujuan, baru dibelikan hewan kurban.
Salah satu penyalur dana kurban adalah Masjid PPME Al-Ikhlas Amsterdam yang menjadi pusat kebudayaan Indonesia di Belanda. “Harga kambing atau domba per ekor EUR 250. Untuk sapi EUR 1500,” jelasnya.
Di hari Idul Adha, komunitas muslim di Amsterdam mengadakan salat Idul Adha berjamaah. Setelahnya, mereka berkumpul untuk mengakrabkan diri sambil membakar sate.
Ritual hampir sama juga biasanya dialami WNI yang berada di Qatar. Menurut Indra Kurnia Wijaya, WNI yang bekerja pada sektor transportasi di Qatar, warga Indonesia di Qatar juga lebih sering berkurban dalam bentuk uang untuk dibelikan hewan kurban di Indonesia.
“Hanya sebagian kecil WNI yang berkurban dalam bentuk hewan di Qatar,” ujar Indra.
Berbeda dengan di Mesir. Menurut Gozali Lubis, mahasiswa Al Azhar asal Bogor, sangat sedikit WNI yang ikut berkurban karena mereka biasanya mendapatkan banyak jatah daging kurban dari masyarakat sekitar.
“Ini lazim karena kebanyakan WNI di Mesir itu pelajar dan mahasiswa. Warga Mesir sangat senang berbagi dengan mahasiswa,” ujarnya.
Pelajar dan mahasiswa Indonesia di Mesir berkumpul berdasarkan asal daerah ataupun asal sekolahnya ketika di Indonesia. Jadi saat hari raya tiba, “Daging kurban dibagikan melalui koordinator tiap daerah ataupun sekolah asal mahasiswa Indonesia,” terang Gozali.
Gozali bercerita, para pelajar dan mahasiswa Indonesia di Mesir biasa melakukan salat Idul Adha berjamaah di KBRI ataupun di lapangan Hay Asyir yang sehari-hari menjadi tempat penjualan mobil.
“Kalau saya biasa salat Idul Adha di KBRI karena bisa bertemu dengan warga Indonesia lainnya. Selain itu, ada makanan yang enak-enak dan gratis,” ungkapnya.
news_share_descriptionsubscription_contact
