Muhammad Nazarudin Latief
07 Desember 2017•Update: 08 Desember 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Jumlah pembaca media cetak tiap tahun menunjukan penurunan, namun menurut hasil survei Nielsen Consumer and Media View 2017, pembaca media cetak yang tersisa adalah decision maker atau pembuat keputusan dalam rumah tangga untuk membeli suatu produk.
Menurut Direktur Eksekutif Nielsen Hellen Katharina pada Rabu, pembaca koran masih produktif dan datang dari kalangan mapan. Mereka juga suka membaca buku dan cenderung menyukai travelling.
Sebagian besar dari mereka, kata Hellen, tidak keberatan melihat iklan karena dianggap sebagai salah satu cara untuk mengetahui produk baru. Hal ini membuat pembaca media cetak sebagai target bagi kalangan pengiklan.
Pembaca media cetak, kata Hellen, juga menggunakan internet dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan frekuensi penggunaanya mencapai 86 persen, di atas rata-rata yang hanya sebesar 61 persen.
“Pembaca media cetak berasal dari kalangan yang lebih affluent,” ujar Hellen.
Nielsen melakukan survei terhadap keterbacaan media cetak ini pada 17ribu responden di 11 kota di Indonesia. Hasilnya, keterbacaan media cetak terus turun. Tahun ini penetrasinya 8 persen dan dibaca oleh 4,5 juta pembaca, berbeda dengan 5 tahun lalu saat media cetak dibaca oleh 9,5 juta orang.
Dari sisi belanja iklan, pendapatan media cetak berkurang 11 persen dari 2013 hingga 2017. Namun secara jumlah masih cukup besar, yaitu sebesar Rp21 triliun.
Hal ini menunjukan bahwa media cetak masih mempunyai peluang mendapatkan kue iklan yang signifikan.
Pengiklan media cetak berasal dari kategori hotel dan restoran dengan share 97 persen. Kemudian kategori kesehatan dan pengobatan, disusul institusi pendidikan formal.
Untuk kategori multivitamin dan suplemen adalah 18 persen, sedangkan perangkat dan layanan komunikasi masih di angka 12 persen.
“Media cetak masih bisa memikat kategori multivitamin dan komunikasi,” ujar dia.