Muhammad Nazarudin Latief
12 April 2018•Update: 13 April 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Hasil riset lembaga penelitian Nielsen bersama The Conference Board Global Consumer Confidence mengungkapkan bahwa konsumen Indonesia masih termasuk negara yang paling optimistis di dunia.
Managing Direktor Nielsen Indonesia Agus Nurudin mengatakan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) di kuartal keempat 2017 adalah 125. Angka ini sebenarnya turun dua poin dari kuartal sebelumnya yang mencapai 127.
Meskipun sedikit turun, Indonesia masih berada dalam urutan tiga teratas negara teroptimis di dunia setelah Filipina (131) dan India (130).
Menurut Agus, pada kuartal keempat, enam dari 10 konsumen di Indonesia atau 60 persen mengatakan bahwa dalam 12 bulan mendatang, adalah waktu yang baik untuk mereka berbelanja.
“Ini naik dari 56 persen pada kuartal ke tiga,” ujar dia dalam siaran pers, Kamis.
Masyarakat Indonesia juga optimistis keadaan keuangan pribadi stabil pada dua kuartal terakhir tahun lalu (68 persen).
Namun, untuk soal optimisme pada pada prospek lapangan kerja lokal menurun, dari 75 persen pada kuarta ketiga menjadi 70 persen pada kuartal keempat.
“Keinginan berbelanja pada 12 bulan kedepan itu indikator peluang bagi para pemilik merek, untuk meningkatkan kedekatan dengan konsumen mereka.” ujar Agus.
IKK ini menurut Agus juga memperlihatkan hanya 47 persen konsumen yang berpendapat bahwa Indonesia adalah negara sedang berada pada situasi resesi ekonomi. Pada empat tahun lalu, angka ini jauh lebih tinggi yaitu lima dari 10 orang konsumen berpendapat bahwa Indonesia sedang mengalami resesi ekonomi.
“Masih jadi pekerjaan pemerintah untuk menemukan cara untuk mengembalikan positivitas konsumen.” papar Agus.
Menurut Agus, masyarakat memilih menabung dan berinvestasi sebagai cara menggunakan dana cadangan.
Di kuartal keempat 2017 sebanyak 67 persen konsumen memilih untuk mengalokasikan dana cadangan mereka untuk menabung. Selain itu sebanyak 44 persen memilih untuk menggunakannya untuk berlibur, dan 33 persen memilih untuk berinvestasi di saham atau reksadana.
Namun, pada kuartal keempat 2017 ini, kekhawatiran masyarakat Indonesia akan keadaan ekonomi meningkat menjadi 32 persen dibandingkan kuartal sebelumnya hanya 30 persen.
“Kekhawatiran akan toleransi antar-umat beragama masuk dalam urutan lima teratas kekhawatiran utama konsumen Indonesia dalam setahun terakhir,” ujar dia.