Shenny Fierdha
JAKARTA
Profesi sebagai pengurus orang lanjut usia (lansia) mungkin tak terlalu populer di Indonesia, namun Solichatun, 48 tahun, justru menghabiskan lebih dari separuh umurnya bekerja mengurus para Oma dan Opa.
"Latar belakang pendidikan saya di bidang sosial, jadi sesuai. Saya mulai kerja di sini sejak 1992. Saya pertama bekerja di sini dan tidak pindah-pindah," ujar Atun, sapaannya, saat ditemui Anadolu Agency di tempatnya bekerja, Rumah Susun Sewa (Rusunawa) Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti Ria Pembangunan (STW KBRP) Cibubur, Jakarta Timur.
Seorang kenalan keluarga pada 1990-an dulu menjabat sebagai wakil kepala di rusunawa tersebut. Dengan bantuannya, Atun mulai bekerja di sana.
"Saya cocok kerja di sini. Para lansianya sudah seperti orangtua sendiri dan saya merasa akrab dengan mereka, begitu pun dengan sesama rekan kerja, semua sudah seperti keluarga," terang Atun.
Baginya, ada kepuasan tersendiri dari merawat dan menolong para lansia.
"Ketika kita mengurus oma-opa yang senang dengan pelayanan yang kita berikan, keluarganya juga puas, itu membuat kita ikut merasa puas dan senang juga," sambung Atun.
Layaknya keluarga sendiri, para lansia itu sering memberikan kado kepada para pengurus yang sedang berulang tahun, menikah, atau baru melahirkan. Termasuk Atun yang juga pernah kebagian diberi kado oleh lansia dan keluarganya.
"Eyang-eyang itu perhatian, loh," tukas Atun.
Untung-rugi memang tak selalu bisa diukur dengan materi. Meski tak menyebut besaran upah per bulan yang diterima Atun bekerja di Rusunawa STW KBRP, Atun menemukan banyak kebahagiaan batin di sini.
Rupa-rupa tabiat lansia
Hidup tidak selalu mudah, sama halnya dengan yang dialami oleh wanita bercucu satu ini.
Orangtuanya pernah beberapa kali menyuruh Atun berhenti dan bekerja di tempat lain atau menjadi pegawai negeri sipil (PNS), namun dia mengaku tidak berminat melakoni profesi lain.
"Lagi pula, saya tak tega meninggalkan tempat ini," ucap Atun.
Atun pun tak keberatan menghadapi tabiat para lansia, salah satunya jika mereka sedang mengalami suasana hati yang buruk dan marah-marah sendiri tanpa alasan yang jelas.
Pernah suatu ketika Atun mendapati seorang lansia seperti mau pergi keluar sehingga dia pun menanyakan ke mana lansia itu akan bertolak. Bukannya menjawab, lansia itu malah menjawab "Ah, mau tahu saja," sambil melenggang.
Tingkah lucu lain para lansia, kisah Atun, mereka sering meminta pengurus mengadakan acara jalan-jalan seperti ke Kebun Binatang Ragunan atau Ancol.
"Ketika sudah hari-H dan bis sewaan datang, banyak lansia yang sebelumnya semangat malah kemudian tidak mau ikut. Alasannya takut lelah, sedang tidak enak badan, atau merasa tidak akan cocok dengan lokasi tujuan. Jadinya yang ikut hanya sebagian saja," Atun terkekeh.
Selain acara jalan-jalan, kegiatan lain yang diadakan di rusunawa ialah senam lansia, relaksasi, berkebun, merajut, membaca, bermain angklung, tadarus Al Quran untuk yang muslim, dan kebaktian untuk yang Kristen.
Di atas semua itu, Atun beruntung memiliki seorang suami yang senantiasa mendukung perjuangannya demi para lansia.
Posisi Atun di bagian Bimbingan Rohani dan Pemakaman Rusunawa STW KBRP membuat pekerjaan Atun tidak sebatas mengurus lansia saja. Dia juga bertanggung jawab mengurus prosesi pemakaman penghuni lansia yang meninggal.
"Sering ada penghuni yang meninggal tiba-tiba saat sudah malam, jadi saya harus ke sini, mengurus jenazahnya, menghubungi keluarganya dan pihak-pihak lain untuk memandikan dan menguburkan. Suami saya mengantar saya malam-malam ke sini," beber Atun.
Rumah cinta untuk lansia
Para lansia yang tinggal di STW KBRP berasal dari berbagai provinsi antara lain Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Barat.
STW berdiri pada14 Maret 1984 dan diprakarsai oleh istri presiden saat itu, Tien Soeharto, sehingga bernaung di bawah yayasan Ibu Tien. Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) juga turut memberikan bantuan.
Pada 2016, Satuan Kerja Penyediaan Rumah Susun Strategis Direktorat Rumah Susun Kementerian PUPR membangun gedung baru berupa rusunawa tiga lantai yang terdiri dari 90 kamar, masing-masing berukuran 24 meter persegi.
Rusunawa itu dibangun di lokasi yang sama dengan lokasi awal berdirinya STW KBRP dan selesai dibangun serta diresmikan pada akhir April 2018.
Sesuai dengan peruntukannya, fasilitas di gedung lama dan baru dibuat sedemikian rupa untuk menunjang kegiatan para lansia. Hand rail terpasang di seluruh dinding lorong gedung, air panas untuk mandi, kloset duduk, pendingin ruangan atau kipas angin, serta kamar berperabot lengkap. Lorong pun dibuat sangat lebar sehingga lansia bisa berlalu-lalang dengan kursi roda atau walker.
Di gedung baru, untuk memudahkan lansia naik-turun lantai, disediakan ram yang menanjak sekitar 30 derajat sehingga mereka tidak perlu menggunakan tangga di samping bisa juga memakai lift.
"Di sini juga tersedia layanan kesehatan 24 jam. Dokter dan perawat kita selalu siaga. Makanan diberikan teratur," kata Kepala Badan Pelaksana Rusunawa STW KBRP Ibnu Abbas.
Adapun syarat untuk menghuni rusunawa ialah lansia harus berusia minimal 60 tahun, lansia ingin tinggal di sana atas keinginan sendiri dan bukan atas keinginan keluarga atau pihak lain, tidak mengidap penyakit menular atau gangguan jiwa, dan masih bisa makan, mandi, berpakaian sendiri.
Namun kalau sudah tidak bisa mandiri, lansia akan ditempatkan di nursing care yang masih berada di gedung rusunawa dan akan dirawat oleh tenaga profesional.
Sebelum dinyatakan diterima di rusunawa, tim dokter dan perawat rusunawa akan memeriksa kondisi kesehatan calon penghuni serta menyurvei kondisi rumah dan lingkungan tempat tinggal si lansia.
"Nanti akan terlihat apakah dia tinggal di tempat yang ramah lansia atau tidak, jauh atau dekat dari fasilitas kesehatan. Supaya kita bisa tahu apakah dia betul-betul membutuhkan rusunawa ini," beber Ibnu.
Walau sudah "lolos pemeriksaan" dan resmi menjadi penghuni baru rusunawa, keluarga tetap harus berkunjung rutin, karena menurut Ibnu, keluarga adalah mitra penting para pengurus lansia dalam melakukan tugasnya.
"Syarat lainnya yaitu lansia harus punya penanggung jawab, apakah keluarga, teman, paguyuban, atau perkumpulannya di gereja maupun majelis taklim," jelas Ibnu.
Per bulan, lansia harus membayar uang sewa sebesar Rp3,5 juta. Jumlah ini bisa meningkat jika lansia membutuhkan perawatan atau fasilitas khusus.
Tak murah bagi sebagian orang mungkin, tapi Ibnu menjelaskan bahwa uang itu pada akhirnya dipakai untuk mengurusi lansia.
"Kebutuhan operasional kita Rp200 juta per bulan, sekitar Rp 2 miliar per tahun. Namun uang sewa yang dibayarkan oleh penghuni hanya untuk memenuhi kebutuhan penghuni, bukan untuk gaji karyawan. Kami tidak digaji oleh kakek nenek," tegas Ibnu.
Meski begitu, Ibnu mengaku enggan melakukan promosi besar-besaran untuk menarik para calon penghuni. Bagi dia, rusunawa ini hanya bagi lansia yang tempat tinggalnya tidak memadai sehingga membutuhkan tempat lebih baik.
"Makanya rusunawa ini diberi nama Sasana Tresna Werdha. Sasana artinya rumah, tresna artinya cinta, dan werdha artinya lansia. Rumah lansia untuk mendapat cinta," tutup Ibnu.
news_share_descriptionsubscription_contact
