Barry Ellsworth
TRENTON, Ont
Jutaan warga Kanada beresiko kehilangan pekerjaan mereka karena kecepatan perkembangan teknologi sehingga pihak berwenang dan bisnis-bisnis tidak bisa beradaptasi dengan kecepatan yang sama.
Laporan yang dirilis perusahaan Deloitte Canada dan Asosiasi Sumber Daya Manusia (HRPA) berjudul The Intelligence Revolution: Future Proofing Canada’s Workforce mengatakan antara 35 hingga 42 persen lapangan kerja Kanada terancam punah, namun belum pasti kapan.
Laporan itu mengatakan pemerintah dan petinggi industri serta pendidik harus bergerak cepat mempersiapkan warga menghadapi tantangan dalam pekerjaan tradisional.
"Kami harus segera merumuskan cara buruh Kanada harus mempersiapkan diri," kata Scott Allinsoon, wakil presiden HRPA, dalam sebuah pernyataan.
Kata-katanya itu diamini oleh Sunil Johal dari lembaga Mowat Centre. Kepada Anadolu Agency dia mengatakan bahkan pekerjaan traditional bergaji tinggi pun terancam punah.
"Perkembangan teknologi terus berpacu," kata Johal. "Terobosan baru dalam bidang kecerdasan buatan dan otomasi akan 'merusak' berbagai sektor ekonomi dalam beberapa tahun ke depan dan mungkin mengancam pekerjaan seperti akuntasi, hukum dan medis."
Contohnya, inovasi kendaraan tanpa penyetir bisa mengancam buruh supir dan robot-robot sudah mulai mengambil alih pekerjaan di berbagai pabrik.
Johal mengatakan bantuan dan pelatihan yang diberikan kepada warga Kanada yang sudah tergeser oleh teknologi "sangat minim". Tahun lalu, penelitian Johal memperkirakan hingga 7,5 juta orang bisa kehilangan pekerjaan karena otomasi.
Studinya itu mengkhawatirkan bukan hanya bagi warga Kanada namun juga bagi semua orang yang takut kehilangan pekerjaan mereka.
"Di seluruh dunia, kita bisa melihat kecerdasan buatan atau artificial intelligence terus berkembang dan berkontribusi secara finansial bagi sejumlah kecil individu dan perusahaan besar," kata Johal. "Kita juga akan melihat lebih banyak kesempatan kerja terbuka bagi mereka dengan keterampilan tinggi dari negara yang masih berkembang, ketimbang bagi mereka di negara-negara-negara maju."
"Oleh karena itu, pemangku kebijakan harus mulai merumuskan program-program yang bisa melatih buruh untuk pekerjaan baru dan cara mempersiapkan generasi anak-anak muda untuk masuk ke lapangan kerja yang penuh ketidakpastian", jelas Johal kepada Anadolu Agency.
Negara-negara yang bisa sukses merangkul teknologi "bisa bersaing secara global untuk meraih investasi".
Laporan itu juga mengatakan kesuksesan itu bisa diraih dengan merombak sistem pendidikan dan berkonstentrasi pada keahlian mental, berpikir secara kritis dan menekankan perlunya terus belajar.
news_share_descriptionsubscription_contact
