Abdullah Asiran
THE HAGUE
Sebuah komite penyelidikan gabungan yang dibentuk oleh badan pengawas senjata kimia mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa pekan depan mereka akan merilis laporan mengenai serangan April 2017 di wilayah Khan Sheikhun di Suriah.
Mekanisme Investigasi Gabungan (JIM) yang dibentuk oleh Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) dan PBB itu akan membuka hasil penyelidikan di hadapan Dewan Keamanan PBB, kata Direktur Jenderal OPCW Ahmet Uzumcu.
Uzumcu mengatakan rezim Bashar al-Assad di Suriah mendeklarasikan simpanan senjata kimia mereka kepada OPCW pada 2013.
Dengan bantuan OPCW, hampir 1.300 sudah dikeluarkan dari Suriah.
"Kami mulai menyelidiki kemungkinan adanya bahan kimia lain yang tidak dilaporkan. Proses ini masih berlanjut," kata Uzumcu.
Serangan senjata kimia oleh pihak rezim pada 21 Agustus 2013 di wilayah Ghouta, Damaskus menewaskan 1.400 jiwa dan lebih dari 10.000 penduduk lainnya terluka, kebanyakan dari mereka perempuan dan anak-anak.
Setelah serangan itu, makin meningkat pula kemungkinan adanya intervensi di Suriah.
Rusia mencegah intervensi dengan mengajukan saran agar rezim Assad menghancurkan semua stok senjata kimia. Persetujuan itu dicapai pada 15 September 2013, dan OPCW pada 19 Agustus 2014 mengatakan telah rampung dengan proses penghancuran.
Namun, karena kewenangan OPCW terbatas pada stok yang dilaporkan oleh rezim Assad, terbuka kemungkinan bahwa belum semua senjata kimia dihancurkan.
Menurut laporan lembaga HAM Syrian Human Rights Network pada Agustus 2017, rezim Assad meluncurkan serangan senjata kimia setidaknya 174 kali sejak September 2013.
Pembantaian di Khan Sheikhun
Mengenai pembunuhan massal di Khan Sheikhun dimana setidaknya 100 warga tewas pada April 4 lalu, Uzumcu memastikan adanya gas kimia sarin yang digunakan dalam serangan itu.
Kemudian, kejadian itu sendiri diselidiki oleh JIM karena bukan termasuk kewenangan OPCW.
"Mereka akan membuka laporan itu pada Dewan Keamanan PBB pada akhir Oktober. Mereka juga akan mengirimkan salinan pada kami. Setelah itu, harus ada yang mengambil langkah bila benar ditemukan siapa yang menggunakan gas sarin," terang Uzumcu.
Selain itu, Uzumcu juga mengatakan ada klaim mengenai penggunaan gas klorin lebih dari 60 kali di Suriah tahun lalu.
Dugaan rezim mengimpor bahan kimia
Mengenai dugaan rezim Assad mengimpor bahan kimia industri atau tekstil dan menggunakan mereka sebagai senjata, Uzumcu mengatakan "semua import bahan kimia harus diberitakan dan dilaporkan pada OPCW, karena adanya isu-isu sensitif di wilayah ini."
"Sejauh ini, delapan negara sudah melaporkan stok senjata kimia mereka. Stok senjata kimia di tujuh negara, termasuk Suriah, sudah dihancurkan. Stok senjata kimia Rusia sudah dihancurkan dua pekan lalu. Stok senjata kimia AS hingga kini masih melalui proses penghancuran, dan 90 persen sudah tiada," jelas Uzumcu.
Dia juga mengatakan tidak tahu apakah Israel, Korea Utara, Mesir dan Sudan Selatan memiliki stok senjata kimia. Menurut sumber berita lain, Pyongyang memiliki stok senjata kimia sebanyak 3.000 hingga 5.000 ton.
news_share_descriptionsubscription_contact

