Dwi Nur Arry Andhika Muchtar
07 Maret 2019•Update: 08 Maret 2019
Servet Gunerigok
WASHINGTON
Sebuah laporan menyebutkan bahwa koalisi yang dipimpin Arab Saudi dan Uni Emirat Arab telah membunuh lebih dari 200 orang, termasuk wanita dan anak-anak, menggunakan senjata produksi AS dan Inggris di Yaman.
Laporan dengan judul, "Hari Pengadilan: Peran AS dan Eropa dalam Kematian Warga Sipil, Kehancuran dan Trauma di Yaman" dibuat oleh Jaringan Universitas untuk Hak Asasi Manusia dan grup Hak Asasi Manusia Yaman, Mwatana.
Laporan setebal 128 halaman menyebutkan 27 serangan terhadap warga sipil dilakukan oleh koalisi antara April 2015 dan April 2018.
"Serangan udara sebanyak 27 kali ini menewaskan sekurang-kurangnya 203 orang dan melukai 749. Sekurang-kurangnya 122 anak-anak dan 56 wanita tewas dan terluka," ujar laporan.
"Banyak serangan udara dilancarkan jauh dari target militer. Merugikan banyak warga sipil," ungkap laporan tersebut, menambahkan pasukan koalisi tidak melakkan tindakan pencegahan untuk mengurangi kerugian terhadap warga sipil.
Menurut laporan, amunisi, termasuk bom produksi AS, telah digunakan dalam 25 serangan dan munisi produksi Inggris, termasuk Paveway IV dan bom "Hakim", digunakan dalam lima serangan.
Laporan itu menyebutkan, 16 serangan yang dilancarkan termasuk terhadap pertemuan warga sipil, rumah-rumah dan kapal; lima serangan kepada fasilitas pendidikan dan kesehatan; lima serangan kepada tempat bisnis, dan satu serangan kepada pusat kebudayaan milik pemerintah.
"Kasus-kasus ini menguatkan bukti sebelumnya bahwa koalisi yang dipimpin Arab Saudi/UEA gagal memenuhi kewajibannya menggunakan hukum perang dengan baik dan berulang kali menggunakan senjata produksi AS yang menyebabkan serangannya tidak proporsional dan membabi-buta," ujar laporan itu.
Laporan itu dikeluarkan beberapa minggu setelah DPR AS meloloskan dasar hukum yang mengharuskan Presien Donald Trump untuk menghentikan bantuan AS untuk koalisi pimpinan Arab Saud pada perang di Yaman.
Pada Februari, semua pihak dari House of Lords menyimpulkan sebuah laporan bahwa penjualan senjata pemerintah Inggris ke Arab Saudi adalah pelanggaran hukum.
Yaman telah ditimpa oleh kekerasan dan kekacauan sejak 2014, ketika pemberontak Houthi menguasai sebagian besar negara, termasuk Sanaa. Krisis meningkat pada 2015 ketika koalisi militer pimpinan Arab Saudi meluncurkan serangan udara yang bertujuan memukul mundur Houthi.
Sejak itu, 10.000 warga Yaman, termasuk beberapa warga sipil, tewas dalam konflik, ketika 14 juta lainnya terancam kelaparan, menurut PBB.