Muhammad Abdullah Azzam
08 Agustus 2019•Update: 08 Agustus 2019
Esat Fırat
YERUSALEM
Lebih dari 250 pemukim fanatik memaksa masuk ke kompleks Masjid al-Aqsa di Yerusalem Timur.
Dalam pernyataan tertulis dari Firas Dibs, Juru Bicara Administrasi Lembaga Islam di Yerusalem, Polisi Israel melindungi 268 orang Yahudi fanatik yang memaksa masuk Masjid al-Aqsa pagi ini.
Para pemukim Yahudi fanatik itu menyerbu Masjid al-Aqsa melalui Gerbang Al-Magharibah (Maroko) di barat daya kompleks Masjid Al-Aqsa.
Jubir Dibs mengungkapkan banyak mahasiswa dan beberapa pejabat dari Badan Sejarah Israel dalam romobongan itu.
Penyerbuan pemukim Yahudi fanatik menyebabkan ketegangan dan keributan antara warga Palestina dan polisi Israel di wilayah tersebut.
Dalam pernyataan itu, para rombongan telah meninggalkan Masjid al-Aqsa setelah mengelilingi halaman sekitar masjid selama beberapa waktu.
Kemarin Rabu, sebanyak 150 orang Yahudi fanatik juga memaksa memasuki kompleks Masjid al-Aqsa.
Sementara orang Yahudi merujuk daerah tersebut sebagai "Gunung Bait Suci," mengklaim bahwa itu adalah situs dari dua kuil Yahudi di zaman kuno.
Israel menduduki Yerusalem Timur, tempat al-Aqsa berada, selama Perang Timur Tengah 1967.
Israel Secara resmi mencaplok seluruh kota pada 1980, mengklaimnya sebagai ibu kota dalam langkah yang tidak pernah diakui oleh masyarakat internasional.
Pada akhir 2015, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah melarang menteri dan anggota parlemen memasuki kompleks al-Aqsa dalam upaya untuk menenangkan ketegangan di Tepi Barat yang diduduki Israel, menyusul serangan yang dilakukan berulang kali oleh pemukim Yahudi di situs tersebut.
Namun pada Juni, Netanyahu mencabut larangan tersebut, yang kemudian memungkinkan anggota Knesset (parlemen Israel) untuk mengunjungi kompleks tersebut setiap tiga bulan sekali.