Muhammad Abdullah Azzam
08 Agustus 2019•Update: 09 Agustus 2019
Emel Öz Gözellik
ANKARA
Pasukan keamanan India menahan setidaknya 500 orang di tengah ketegangan meningkat di wilayah Jammu Kashmir setelah India memutuskan untuk membelah menjadi dua dan menghilangkan status khusus wilayah tersebut, lapor media lokal.
Laporan media setempat juga mengungkapkan seorang pengunjuk rasa yang melarikan diri dari polisi dia melompat ke Sungai Jhelum dan meninggal dunia.
Pasukan keamanan menahan 500 orang, termasuk politisi dan aktivis dalam beberapa hari terakhir untuk mencegah kemungkinan kekerasan di wilayah tersebut.
Media India melaporkan kerap terjadi insiden baku tembak antara pasukan India dan Pakistan di daerah Rajouri, Jammu Kashmir.
Perdana Menteri India Narendra Modi akan berpidato mengenai masalah Jammu Kashmir hari ini.
Penasehat Keamanan Nasional India Ajit Doval mengunjungi Jammu Kashmir untuk meninjau situasi terkini di wilayah tersebut.
Kemarin warga melakukan demonstrasi di daerah Kargil untuk menentang keputusan pemerintah India yang membatalkan status khusus wilayah Kashmir.
Pada Senin, India membatalkan status khusus yang diberikan kepada satu-satunya negara bagian berpenduduk mayoritas Muslim di negara itu.
Status memungkinkan Kashmir memberlakukan otonomi sendiri dengan imbalan bergabung dengan persatuan India setelah kemerdekaan pada 1947.
Sejak 1947, Jammu dan Kashmir diberi hak khusus untuk memberlakukan hukumnya sendiri.
Ketentuan tersebut juga melindungi hukum kewarganegaraannya, yang melarang orang luar untuk menetap atau memiliki tanah di wilayah tersebut.
Jammu dan Kashmir itu dikuasai oleh India dan Pakistan sebagian dan diklaim oleh keduanya secara penuh.
Sejak berpisah pada 1947, India dan Pakistan telah berperang sebanyak tiga kali - pada 1948, 1965 dan 1971 - dua di antaranya memperebutkan Kashmir.
Sejumlah kelompok Kashmir di Jammu dan Kashmir berperang melawan pasukan India untuk memperjuangkan kemerdekaan, atau untuk bersatu dengan negara tetangga Pakistan.
Menurut sejumlah organisasi hak asasi manusia, ribuan orang tewas akibat konflik di wilayah itu sejak 1989.