Zahid Rafiq
SRINAGAR
Setidaknya 44 personel paramiliter India tewas saat bom mobil mengguncang Jammu dan Kashmir, ujar media lokal pada Kamis.
Menurut surat kabar berbasis di New Delhi Hindustan Times, 20 tentara terluka dalam serangan itu.
Serangan terjadi sekitar pukul 3.15 malam waktu setempat ketika sebuah kendaraan bermuatan bahan peledak menabrak bus paramiliter di Awantipora, sebuah kota di jalan raya yang menghubungkan ibukota negara bagian Srinagar dengan Anantnag, distrik selatan, kata polisi.
Sumber resmi mengatakan kendaraan itu membawa 350 kilogram bahan peledak.
Militan Jaish-e-Muhammad mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.
Anggota kelompok pelaku serangan telah diidentifikasi sebagai Adil Ahmad dari distrik Pulwama di Kashmir, yang bergabung dengan militansi setahun lalu.
Dalam postingannya di Twitter, Perdana Menteri India Narendra Modi mengutuk serangan itu dan menyebutnya sebagai "keji" dan "pengecut".
“Serangan terhadap personel CRPF di Pulwama adalah keji. Saya sangat mengutuk serangan pengecut ini,” kata Modi.
"Pengorbanan personel keamanan kami yang berani tidak akan sia-sia," tulis dia, "Seluruh bangsa berdiri bahu membahu dengan keluarga para martir pemberani.
Sebelumnya, Omar Abdullah, mantan menteri besar, juga mengutuk serangan itu dalam cuitannya di Twitter.
"Kabar mengerikan datang dari lembah. Sejumlah tentara CRPF dilaporkan telah terbunuh & terluka dalam ledakan IED. Saya mengutuk serangan ini dalam kondisi sekuat mungkin. Doa saya untuk yang terluka & bela sungkawa kepada keluarga korban. #Kashmir," kata dia.
Ini adalah serangan paling mematikan bagi pasukan India dalam tiga decade pemberontakan bersenjata di Kashmir.
Menteri Dalam Negeri India Rajnath Singh akan berkunjung ke Kashmir pada Jumat untuk memeriksa situasi keamanan di daerah tersebut.
Sebagian Jammu dan Kashmir, wilayah Himalaya yang mayoritas penduduknya muslim, dikendalikan dan diklaim oleh India dan Pakistan.
Sebagian wilayah Kashmir juga diaku oleh China.
Sejak dipisahkan pada 1947, kedua negara telah tiga kali berperang - pada 1948, 1965 dan 1971 - dua di antaranya terjadi di Kashmir.
Di gletser Siachen utara Kashmir, pasukan India dan Pakistan berperang sejak 1984.
Gencatan senjata diberlakukan pada 2003.
Sejumlah kelompok di Jammu dan Kashmir berperang melawan pemerintahan India demi kemerdekaan, atau untuk penyatuan dengan negara tetangga Pakistan.
Menurut sejumlah organisasi HAM, ribuan orang dilaporkan tewas dalam konflik di wilayah tersebut sejak 1989.
news_share_descriptionsubscription_contact
