Rhany Chairunissa Rufinaldo
30 Januari 2019•Update: 30 Januari 2019
Bayram Altug
JENEWA
Enam orang meninggal setiap hari saat berusaha melintasi Mediterania pada 2018, menurut laporan PBB yang dirilis pada Rabu.
Dalam laporan terbaru berjudul "Perjalanan Putus Asa," Badan Pengungsi PBB (UNHCR) mengatakan sekitar 2.275 orang meninggal atau hilang saat melintasi Laut Tengah pada 2018, meskipun ada penurunan besar dalam jumlah orang yang sampai di pantai-pantai Eropa.
"Secara keseluruhan, 139.300 pengungsi dan migran tiba di Eropa, jumlah terendah dalam lima tahun," katanya.
Laporan itu juga menunjukkan perubahan signifikan dalam rute yang digunakan oleh para pengungsi dan migran.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, Spanyol menjadi pintu masuk utama ke Eropa ketika sekitar 8.000 orang tiba melalui jalur darat (melalui daerah kantong di Ceuta dan Melilla) dan 54.800 orang lainnya berhasil menyeberang Mediterania barat yang berbahaya.
"Akibatnya, korban tewas di Mediterania barat menjadi hampir empat kali lipat dari 202 pada 2017 menjadi 777. Sekitar 23.400 pengungsi dan migran tiba di Italia pada 2018, penurunan lima kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya," tulis laporan itu.
Yunani mengalami peningkatan sekitar tiga kali lipat dalam jumlah orang yang tiba melalui perbatasan darat dengan Turki.
Menurut UNHCR, Yunani menerima sekitar 32.500, sementara pada 2017 hanya sebanyak 30.000.
"Menyelamatkan nyawa di laut bukanlah pilihan, bukan masalah politik, tetapi kewajiban," Filippo Grandi, Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi, mengatakan dalam laporan itu.
"Kita dapat mengakhiri tragedi ini dengan memiliki keberanian dan visi untuk melihat jauh ke depan dan mengadopsi pendekatan jangka panjang berdasarkan kerja sama regional, yang menempatkan kehidupan dan martabat manusia pada intinya," katanya.