Muhammad Abdullah Azzam
28 Januari 2019•Update: 28 Januari 2019
Mehmet Nuri Uçar
ADEN
Koordinator Bantuan Kemanusiaan PBB Lise Grande mengungkapkan dalam sebuah pernyataan tertulisnya bahwa delapan warga sipil tewas dan 30 lainnya terluka akibat serangan artileri ke kamp pengungsi di distrik Harad, kota Hajjah.
Dalam pernyataan itu, Grande tak menyebut siapa pelaku serangan itu.
"Menyerang daerah sipil adalah pekerjaan mereka yang kehilangan hati nurani. Ini jelas merupakan pelanggaran terhadap hukum HAM internasional," ungkap Grande.
Grande menekankan bahwa pihak yang berperan aktif dalam konflik di Yaman harus berusaha melindungi warga sipil.
Para pengungsi, tutur Grande, selama ini sudah banyak mengalami kehilangan dan kesengsaraan, oleh karena itu serangan terhadap mereka sangat tidak dibenarkan.
Yaman dilanda perang saudara sejak 2014, ketika kelompok pemberontak Houthi menguasai ibu kota Sanaa dan sebagian besar wilayah negara, sehingga memaksa pemerintah Yaman yang diakui secara internasional melarikan diri ke Arab Saudi.
Pada 2015, Arab Saudi dan sekutunya melancarkan kampanye udara besar-besaran untuk menggulingkan pertahanan Houthi.
Menurut PBB, perang saudara Yaman telah menewaskan lebih dari 10.000 jiwa dan menyebabkan lebih dari 11 persen dari keseluruhan populasi mengungsi.
WHO mengungkapkan bahwa sekitar 24,4 juta orang Yaman - kira-kira 80 persen dari total populasi Yaman - membutuhkan bantuan kemanusiaan untuk bertahan hidup.
Konflik telah menghancurkan banyak infrastruktur Yaman, termasuk sistem air dan sanitasi, sehingga PBB menyebut situasi di sana sebagai salah satu "bencana kemanusiaan terburuk di zaman modern".