Nani Afrida
25 Desember 2018•Update: 26 Desember 2018
Oleh Husameldin Badawi Ahmed Almayl dan Afra Aksoy
KHARTOUM, Sudan
Aksi demonstrasi meletus pada Senin di provinsi Gezira karena kondisi ekonomi yang terus memburuk.
Beberapa saksi mata menyampaikan kepada Anadolu Agency aksi protes meletus di al-Manaqil dan Rufaa karena kenaikan harga dan langkanya kebutuhan dasar.
Polisi menembakkan gas air mata dan menggunakan pentungan untuk membubarkan para demonstran serta menahan beberapa diantara mereka.
Kantor berita negara SUNA melaporkan Presiden Omar al-Bashir akan mengunjungi Gezira besok untuk mengumumkan "beberapa proyek baru pembangunan".
Sementara itu, beberapa dokter yang bekerja di 28 rumah sakit di sembilan negara bagian, termasuk ibu kota Khartoum, berencana untuk melakukan aksi demonstrasi sebagai bentuk dukungan mereka.
Terjadi kekerasan di aksi demonstrasi yang berlangsung di kota Atbara dan Pelabuhan Sudan.
Dalam beberapa hari, aksi protes terjadi di beberapa kota, termasuk Er-Rahas di utara Sudan, sebelah selatan kota Berber dan El-Gadarif dan El-Obeid, sebelah timur Sudan.
Ketika pejabat mengeluarkan estimasi angka kematian di angka delapan, kelompok oposisi mengatakan angka kematian mencapai 22 orang.
Pada Minggu, aksi protes terjadi di Omdurman, kota kembar dari ibu kota Khartoum, dan sebelah utara dan selatan negara bagian Kordofan.
Beberapa saksi mata mengatakan polisi menembakkan gas air mata kepada pendukung sepak bola yang sedang berada di pusat kota Khartoum dengan nyanyian anti Presiden Omar al-Bashir, yang menjadi presiden sejak 1989.
Otoritas Sudan telah mengumumkan keadaan darurat dan memperlakukan jam malam di beberapa provinsi karena aksi protes, dengan menuduh Israel dan kelompok pemberontak yang menjadi dalangnya dengan menciptakan kekerasan di Sudan.
Sudan-negara dengan populasi 40 juta orang- telah berjuang pulih sejak kehilangan tiga perempat minyaknya sejak Sudan Selatan memisahkan diri pada 2011.