Said Ibicioglu dan Mohamad Misto
03 Maret 2018•Update: 04 Maret 2018
Said Ibicioglu dan Mohamad Misto
ISTANBUL
Aktivis Ghouta Timur yang terkepung berkampanye di media sosial untuk menyampaikan nasib anak-anak yang terjebak di wilayah tersebut karena serangan rezim.
Dengan tagar #Iamstillalive mereka mengunggah foto bersama anak-anak dengan satu tangan terangkat.
Serangan oleh rezim Assad dan pendukungnya di Ghouta Timur itu menewaskan 127 anak dalam 12 hari terakhir, menurut laporan kelompok pembela sipil White Helmets.
Serangan terus berlanjut meski ada gencatan senjata.
Sabtu lalu, Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat memutuskan resolusi 30 hari gencatan senjata di Ghouta Timur.
Pada Senin, Presiden Rusia Vladimir Putin meminta jeda serangan udara di wilayah terkepung tersebut sepanjang pukul 9-14 waktu setempat untuk evakuasi sipil dan medis.
Kepada Anadolu Agency, Eymen, seorang bocah di Ghouta Timur, berkata bahwa dia bersyukur masih bisa hidup.
“Mereka bilang tak ada gencatan senjata antara pukul 9-14, tapi mereka berbohong, mereka menembak juga. Semua orang berbohong pada kami, kami mati kelaparan, tidur tidak nyaman dan selalu terbangun,” kata dia.
“Kami lelah, mencoba bertahan hidup dengan perut lapar,” kata Isam, anak lainnya di wilayah tersebut.
“Serangan udara menyerang kami, tapi syukurlah saya selamat,” kata Abdul Qayyum, anak yang terluka dalam serangan rezim.
Ghouta Timur, tempat tinggal bagi 400.000 orang, telah dikepung selama lima tahun terakhir dengan akses kemanusiaan terputus ke wilayah tersebut.
Delapan bulan terakhir, pasukan rezim Assad lebih intensif mengepung Ghouta Timur, sehingga hampir tak mungkin makanan dan obat-obatan masuk ke distrik tersebut.
Suriah terjebak dalam konflik menghancurkan sejak awal 2011, saat rezim menindak demonstran dengan keganasan tak terduga.
PBB menyebutkan ratusan ribu orang terbunuh dalam konflik tersebut hingga saat ini.