Muhammad Nazarudin Latief
02 November 2019•Update: 02 November 2019
Michael Hernandez
ANKARA
Turki adalah "anggota aktif" yang terus memerangi kelompok teroris Daesh/ISIS agar tidak kembali bangkit, ujar Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) dalam sebuah laporan, pada Jumat.
Dalam “Laporan Tahunan Terorisme” pada 2018 Ankara melanjutkan upayanya mengalahkan organisasi teroris baik di dalam maupun di luar perbatasannya, termasuk dengan mengambil langkah-langkah anti-PKK dan anti-Daesh / ISIS.
Lebih lanjut disebutkan bahwa Turki telah menjadi "kontributor aktif" dalam organisasi-organisasi anti-teror internasional, termasuk Global Counterterrorism Forum (GCTF) dan koalisi anti-Daesh yang dipimpin AS.
"Turki adalah anggota aktif Global Coalition to Defeat ISIS, co-chairs the Defeat-ISIS Coalition FTF Working Group. Mereka terus menyediakan akses ke wilayah udara dan fasilitasnya untuk operasi di Irak dan Suriah," kata laporan itu, menggunakan ISIS sebagai nama lain Daesh.
"Turki juga berkontribusi pada Institut International Institute for Justice and the Rule of Law, sebuah lembaga yang diinspirasi GCTF, dan memberikan dukungan ahli untuk membantu pelatihan bagi para hakim dan jaksa penuntut yang menangani kasus terorisme," tambah laporan itu.
Dokumen tersebut menyebut PKK, sebuah kelompok teroris yang ditunjuk AS dan Turki, mendukung "serangkaian ideologi ekstremis dan nasionalis," dan terus "bersekongkol melawan target polisi dan militer di Turki dan mengumpulkan dana di seluruh Eropa" tahun lalu. .
Ankara "terus menerima bantuan AS untuk mengatasi ancaman teroris yang ditimbulkan oleh PKK pada tahun 2018," termasuk daftar tiga pemimpin senior PKK pada program Hadiah untuk Keadilan AS pada November 2018. Secara keseluruhan, AS menawarkan USD12 juta untuk informasi tentang individu.
Dalam lebih dari 30 tahun kampanye terornya melawan Turki, PKK - yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki, AS dan Uni Eropa - bertanggung jawab atas kematian 40.000 orang, termasuk wanita, anak-anak dan bayi.