Said Amori, Rania Abushamala
05 Oktober 2026•Update: 05 Oktober 2026
Amerika Serikat bersiap mengerahkan tambahan pasukan dan pesawat ke Israel dalam beberapa pekan mendatang sebagai persiapan menghadapi kemungkinan eskalasi di Timur Tengah, menurut laporan media Israel pada Minggu.
Situs berita Walla, mengutip sumber keamanan yang tidak disebutkan namanya, melaporkan sekitar 3.000 personel militer AS saat ini ditempatkan di berbagai wilayah Israel.
Personel tersebut antara lain bertugas mengoperasikan sistem pertahanan udara bersama pilot, kru pendukung, personel logistik, serta pasukan yang ditempatkan di markas militer.
Militer AS dalam beberapa pekan terakhir juga melakukan rotasi rutin pasukan setelah sejumlah unit menyelesaikan masa penugasan mereka di kawasan, menurut laporan tersebut.
Tambahan pasukan dan pesawat diperkirakan tiba dalam beberapa pekan mendatang “sebagai bagian dari persiapan menghadapi eskalasi di Timur Tengah,” tambah Walla.
Laporan tersebut muncul di tengah peningkatan kehadiran militer AS di kawasan, dengan sejumlah laporan baru-baru ini menyebut pengerahan tambahan pasukan dan aset angkatan laut seiring meningkatnya ketegangan dengan Iran.
Seorang pejabat senior keamanan Israel yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada Walla bahwa pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh Israel terus mengamati pemilu di Israel dan AS serta menilai apakah dan bagaimana mereka dapat memengaruhinya melalui serangan yang bertujuan mengganggu stabilitas tanpa memicu eskalasi yang lebih luas.
“Mereka memahami bahwa respons Israel kali ini akan sangat agresif,” kata pejabat tersebut.
Menurut Walla, militer Israel terus mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan konfrontasi baru dengan Iran atau memburuknya situasi keamanan secara cepat di tengah ketegangan antara Teheran dan Washington.
Sebagian dari persiapan tersebut berfokus pada operasi yang dapat dilakukan Israel dalam konflik yang lebih luas serta sejumlah target potensial di Iran, menurut situs tersebut.
Walla juga melaporkan koordinasi militer yang erat antara Israel dan Komando Pusat AS (CENTCOM) terus berlangsung untuk mempersiapkan berbagai skenario, termasuk kemungkinan serangan rudal Iran.
Perkembangan tersebut terjadi setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan negaranya siap menempuh jalur diplomasi untuk mencapai solusi yang adil.
Araghchi menyampaikan pernyataan tersebut dalam pertemuan dengan para duta besar dan perwakilan diplomatik asing di Teheran, menurut laporan kantor berita resmi Iran, IRNA, pada Minggu.
Iran sebelumnya menyampaikan tujuh persyaratan kepada Washington terkait pembukaan kembali Selat Hormuz melalui mediasi Qatar dalam pertemuan di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB pada akhir September.
Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington tidak menerima persyaratan Iran tersebut.
Walla juga melaporkan pejabat militer Israel menilai konfrontasi dengan kelompok Houthi di Yaman dapat memengaruhi aliansi dan kesepakatan regional yang lebih luas.
Menurut penilaian Israel yang dikutip Walla, kemungkinan tersebut berkaitan dengan peningkatan kerja sama antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dalam menghadapi Houthi serta potensi dampak kesepakatan regional terhadap isu lain, termasuk Lebanon dan pengaruh Iran di negara tersebut.
Seorang pejabat senior keamanan Israel yang tidak disebutkan namanya mengatakan terdapat pandangan bahwa “mereka yang tidak bergabung dalam konfrontasi melawan Houthi sekarang akan menghadapi serangan kelompok itu sendirian.”
Pertempuran antara pasukan pemerintah Yaman dan Houthi meningkat pada September, dengan kelompok tersebut menguasai sejumlah lokasi penting di Provinsi Al Hudaydah dan Taiz, termasuk kota strategis Mokha, serta bergerak maju menuju Pulau Mayun yang menghadap Selat Bab el-Mandeb.
Yaman dilanda perang sejak Houthi menguasai ibu kota Sanaa dan sejumlah provinsi pada September 2014. Koalisi Arab pimpinan Arab Saudi kemudian melakukan intervensi pada Maret 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.