Michael Hernandez
WASHINGTON
Amerika Sserikat (AS) pada Rabu meminta PBB agar menuntut tanggung jawab dari Rusia atas insiden peracunan dua orang di Inggris.
Duta Besar AS untuk PBB mengatakan ini menjadi "momen yang menentukan".
"Lagi dan lagi, negara-negara anggota PBB mengatakan mereka menolak penggunaan senjata kimia dalam bentuk apapun," kata Haley. "Sekarang, satu negara anggota menghadapi tuduhan menggunakan senjata kimia di negara lain. Kredibilitas dewan ini dipertaruhkan bila kita tidak menuntut tanggung jawab dari Rusia."
Sebelumnya pada Rabu, Inggris mengusir 23 diplomat Rusia di tengah ketegangan yang muncul menyusul percobaan pembunuhan mantan agen Rusia Sergei Skripal.
Skripal, 66 tahun, dan putrinya Yulia, 33 tahun, dilarikan ke rumah sakit setelah ditemukan tidak sadarkan diri pada 4 Maret lalu di kota Salisbury, Inggris.
Sejak itu, pihak berwenang Inggris mengatakan "sangat mungkin" Moskow lah yang menjadi dalang insiden serangan kimia itu. Salah satu indikasi, menurut Inggris, adalah jenis zat yang digunakan - yaitu Novichok - yang diproduksi Rusia sejak zaman Perang Dingin.
Skripal diberikan suaka oleh Inggris dalam program pertukaran mata-mata antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia pada 2010. Dia pernah dinyatakan bersalah atas tuntutan "pengkhianatan luar biasa dalam bentuk spionase" oleh pengadilan Moskow pada 2006 dan dijatuhkan hukuman 13 tahun penjara.
Pihak rumah sakit awalnya mengatakan Skripal dan putrinya itu terpapar oleh zat misterius.
Rusia selama ini membantah terlibat kasus itu dan mengulang klaim itu pada Rabu.
Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB Rusia "tidak terlibat sama sekali" dan siap ikut serta dalam penyelidikan gabungan.
Selain itu, Nebenzia mengatakan semua tuduhan yang dilemparkan kepada Rusia menjadi ancaman bagi kedaulatan mereka.
Sikap AS selaras dengan Inggris dengan mengatakan setuju dengan kesimpulan Inggris terkait "serangan gas saraf terhadap seorang warga negara Inggris dan putrinya".
"Kami mendukung keputusan Inggris untuk mengusir diplomat-diplomat Rusia sebagai respon terhadap peristiwa ini," kata juru bicara Gedung Putih Sarah Huckabee Sanders. "Aksi terbaru dari Rusia ini cocok dengan pola sikap mereka yang sering mengabaikan hukum internasional, mencemooh kedaulatan dan keamanan negara-negara lain, dan mencoba mengikis proses demokrasi Barat."
Sedangkan Haley menyoroti insiden-insiden pembunuhan sebelumnya yang dilakukan Rusia serta tuduhan penggunaan senjata kimia di Suriah.
"Bila pemerintah Rusia benar-benar berhenti menggunakan senjata kimia terhadap musuh-musuh mereka; dan bila Rusia berhenti membantu sekutu mereka Suriah menggunakan senjata kimia untuk membunuh anak-anak; dan bila Rusia bekerja sama dengan Organisasi Pelarangan Senjata Kimia, kami akan berhenti menuduh mereka," terang Haley.
"Kami juga tidak suka selalu mengkritik Rusia, tapi mereka selalu memberikan kami alasan untuk terus mengkritik," tambahnya.
Selain kasus Skripal ini, Rusia juga dituduh meracuni seorang mantan agen yang meninggal pada 2006 setelah meneguk teh yang mengandung zat radioaktif.
Sejumlah pihak menunjukkan kemiripan antara kasus Skripal dan kematian mantan anggota KGB Alexander Litvinenko, yang tewas di London.
news_share_descriptionsubscription_contact



