Chandni
15 Maret 2018•Update: 15 Maret 2018
Safvan Allahverdi
WASHINGTON
Ribuan murid sekolah di seluruh AS meninggalkan kelas mereka pada Rabu dalam aksi protes terhadap kekerasan bersenjata dan menuntut hukum kepemilikan senjata yang lebih ketat.
Dalam aksi yang dimulai pukul 10.00 pagi itu, siswa-siswi keluar dari ruang kelas selama 17 menit untuk menyimbolkan ke-17 korban tewas dalam insiden penembakan sekolah di Florida bulan lalu.
Sebanyak 17 orang tewas di SMA Marjory Stoneman Douglas di Parkland ketika seorang pria bersenjata melakukan salah satu aksi penembakan massal terburuk dalam sejarah moderen AS.
Hampir 3.000 protes diadakan di seluruh AS dan juga diikuti murid-murid sekolah dasar, sekolah menengah serta universitas.
Beberapa mengadakan long march dan beberapa lagi memadati lapangan-lapangan olahraga.
Di Washington D.C., ribuan murid-murid bergerak menuju gedung Capitol dimana mereka menuntut untuk hukum larangan senjata.
"Saya berada disini karena saya tidak ingin takut ketika berangkat pergi ke sekolah," kata Caroline Mounhaver, murid SMA berusia 15 tahun, kepada Anadolu Agency. "Saya tidak ingin melihat anak-anak kecil khawatir akan terluka atau mati bila ke sekolah."
Alasan Laura Campo, 14 tahun, berada di aksi protes itu adalah karena "pemimpin-pemimpin masa kini tampak seperti anak-anak dan anak-anak menjadi pemimpin". Sedangkan Aaron Chenez, 13 tahun, mengatakan kepada Anadolu Agency dia berharap aspirasinya itu dianggap serius oleh politisi.
"Insiden itu terjadi sebulan lalu dan kami belum melihat perubahan signifikan. Jadi kami datang hari ini menuntut untuk larangan senjata," jelas Chenez.
Sejumlah politisi, seperti mantan kandidat presiden Bernie Sanders dan anggota Senat Chuck Schumer, bertemu dengan siswa-siswi itu untuk berjabat tangan.
"Bila kita semua berkumpul bersama, tidak ada yang tidak bisa kita lakukan. Di seluruh negara ini, semua bergerak untuk menuntut agar kekerasan senjata segera berhenti dan merenggut nyawa," kata Sanders kepada demonstran.
Dia mengatakan regulasi dan penjualan senjata harus lebih diperketat.
"Sangat mudah membeli senapan di sebuah pameran senjata. Kita harus menghentikan itu, tidak ada yang boleh membeli senjata sebelum latar belakang mereka diperiksa," lanjut Sanders.
Kemarahan publik AS setelah insiden penembakan Florida itu mendorong Presiden Donald Trump membentuk hukum baru untuk menekan jumlah kekerasan dalam sekolah.
Sebuah rancangan undang-undang yang belum ditandatangani bertujuan untuk meningkatkan koordinasi antara sekolah-sekolah dan pasukan keamanan, kata Gedung Putih.
Lewat Twitter, Trump mendukung wacana menaikkan usia pembelian senjata menjadi 21 tahun, memperketat pemeriksaan latar belakang termasuk tes kejiwaan, dan menghentikan penjualan modifikasi senjata.
Proposal itu mungkin akan ditentang oleh Kongres, dimana banyak politisi masih menerima dukungan dari Asosiasi Senjata Nasional (NRA).