Maria Elisa Hospita
13 April 2018•Update: 14 April 2018
Michael Hernandez
WASHINGTON
Pemerintah Amerika Serikat telah mendapatkan sampel darah dan urine dari korban serangan di Suriah yang diduga melibatkan senjata kimia, yang telah teruji positif mengandung gas saraf dan klorin, kata NBC News, Kamis.
Dua pejabat AS mengatakan pada NBC News bahwa rezim Bashar al-Assad diketahui telah menggunakan campuran gas klorin dan saraf dalam serangan sebelumnya. Mereka juga mengatakan, AS bersama dengan negara-negara lain telah mengumpulkan intelijen, termasuk foto, yang mengindikasikan serangan mematikan oleh rezim Assad akhir pekan lalu.
Badan pertahanan sipil Suriah, White Helmet, menuding rezim Assad bertanggung jawab atas serangan kimia pada Sabtu malam di kota Douma, Ghouta Timur, yang menewaskan 78 warga sipil dan melukai ratusan lainnya.
Sementara itu, CNBC melaporkan bahwa AS saat ini tengah meninjau delapan target untuk kemungkinan tanggapan militer. Dua landasan pacu, sebuah pusat penelitian, dan sebuah fasilitas senjata kimia milik rezim Assad termasuk dalam daftar target.
Menteri Pertahanan AS James Mattis pada Kamis mengatakan, Presiden Donald Trump belum memutuskan apakah dia akan melancarkan aksi militer di Suriah.
"Kami belum membuat keputusan untuk melancarkan serangan militer ke Suriah. Presiden belum memutuskan," kata Mattis kepada anggota Komite Layanan Bersenjata Parlemen AS.
"Pada tingkat strategis, kami mengkhawatirkan jika aksi itu nantinya ke luar dari kendali," ungkap dia.
Sebelumnya, Trump memperingatkan Rusia untuk bersiap-siap menghadapi rudal yang akan datang. "Jangan beri tahu kapan serangan ke Suriah akan terjadi. Mungkin segera atau tidak secepat itu!" tulis Trump di Twitter, pada Kamis.