Muhammad Abdullah Azzam
30 Juni 2018•Update: 01 Juli 2018
Safvan Allahverdi
Washington
Pentagon pada Jumat mengatakan bahwa Amerika Serikat (AS) atau koalisi anti-Daesh tidak akan melibatkan diri dalam serangan rezim Suriah di kota-kota yang dikuasai pemberontak di bagian selatan Suriah.
Dalam sebuah konferensi pers, juru bicara Pentagon Eric Pahon menanggapi pertanyaan reporter Anadolu Agency terkait kekhawatiran Amerika Serikat terhadap kemajuan rezim Bashar al-Assad di wilayah selatan Suriah, terutama di kota Daraa, bagian barat daya Suriah.
Pahon menyatakan bahwa Amerika Serikat akan tetap fokus dalam memberantas Daesh dan menyarankan kepada para pihak di wilayah tersebut untuk tidak menyerang pasukan AS maupun koalisi mereka. Pahon juga menyatakan bahwa AS tak ingin berkonflik dengan rezim Suriah.
Pahon menambahkan bahwa semua pihak harus terlibat dalam mengurangi ketegangan dan mencari solusi politik untuk konflik Suriah.
Pahon juga menekankan bahwa AS tak akan menoleransi tindakan provokatif dan akan membela diri dan partnernya jika mendapatkan serangan.
Pahon dalam pernyataannya juga menambahkan bahwa para diplomat dan politikus Amerika Serikat sedang mengusahakan berbagai resolusi untuk konflik-konflik yang sedang berlangsung di Suriah. “Dari sudut pandang militer, Anda tahu bahwa kami akan selalu membela diri dan sekutu kami,” ujar Pahon.
Pasca tercapainya gencatan senjata trilateral dengan Amerika Serikat, Rusia dan Yordania sebagai negara penjaminnya, Daraa yang terletak pada titik perbatasan wilayah dideklarasikan sebagai zona de-eskalasi sejak Juli 2017 lalu.
Namun pada 19 Juni, pasukan Assad bersama Rusia memulai serangan-serangan brutal bom dan peluru setiap harinya ke kota Daraa.
Jumlah pengungsi yang melarikan diri dari Daraa ke daerah perbatasan dekat Yordania dan Israel akibat kekejaman rezim Assad telah mencapai 150.000 jiwa.
PBB meminta semua pihak untuk menghindari terulangnya kembali pertumpahan darah dan penderitaan yang terjadi pada awal tahun ini di Ghouta Timur.