Muhammad Abdullah Azzam
08 Mei 2020•Update: 08 Mei 2020
Servet Gunerigok
WASHINGTON
Rusia bekerja sama dengan rezim Suriah Bashar al-Assad untuk mengirim tentara bayaran ke Libya untuk berperang bersama milisi komandan pemberontak Khalifa Haftar, ungkap Perwakilan Khusus Amerika Serikat (AS) untuk Suriah.
"Kami tentu saja tahu bahwa Rusia bekerja dengan Assad untuk mengirim petarung serta peralatan militer, mungkin negara ketiga, mungkin Suriah, ke Libya," kata Jeffrey kepada wartawan melalui konferensi video.
Selama konferensi video itu, Wakil Direktur Urusan Eropa dan Eurasia di Kementerian Luar Negeri AS Christopher Robinson mengatakan upaya Moskow untuk memperluas keberadaannya di Afrika dan sepanjang Laut Mediterania memperburuk situasi di sana.
Merujuk kegiatan Rusia di Libya, Robinson menekankan bahwa Rusia terlibat dalam kegiatan yang melemahkan proses perdamaian politik dan meningkatkan konflik di Libya.
“Sementara itu Rusia secara terbuka sering mengklaim dukungan untuk solusi politik, seperti di Suriah atau Libya, Rusia secara bersamaan melakukan kegiatan yang merusak proses perdamaian politik dan memperluas konflikdi Libya," kata Robinson.
Rusia memberikan dukungan material dan logistik kepada Grup Wagner, sebuah pasukan bersenjata swasta yang diduga memiliki hubungan dengan kawan Presiden Vladimir Putin. Namun Rusia membantah itu.
Baru-baru ini, Rusia berkoordinasi dengan rezim Assad untuk mengangkut para pejuang Suriah ke Libya untuk berpartisipasi dalam operasi-operasi Wagner untuk mendukung Jenderal Haftar, kata pejabat itu.
Beberapa waktu sebelumnya, menurut laporan lokal di Suriah, Rusia akan mengirim tentara bayaran yang berjuang untuk rezim Assad di kota Daraa di Suriah barat daya untuk berperang bersama pasukan ilegal Haftar di Libya timur.
Sejak 24 April, seorang komandan tingkat tinggi Rusia dan timnya mengadakan serangkaian pertemuan dengan tentara bayaran yang berjuang untuk rezim Assad di Daraa.
Dalam serangkaian pertemuan ini, Rusia menawarkan USD1.000 dan kontrak tiga bulan yang dapat diperbarui untuk tentara bayaran Suriah sebagai imbalan atas perjuangan mereka di jajaran Haftar.
Pasukan Haftar melancarkan serangan terhadap pemerintah Libya sejak April 2019, hingga menewaskan lebih dari 1.000 orang.
Pemerintah Libya kemudian meluncurkan Operasi Badai Perdamaian pada 26 Maret untuk melawan serangan-serangan di ibu kota.
Sejak penggulingan pemerintahan Muammar Khaddafi pada 2011, dua poros kekuasaan yang saling bersaing muncul di Libya, satu di Libya Timur yang didukung oleh Mesir dan Uni Emirat Arab, dan satu lagi di Tripoli yang mendapat persetujuan PBB dan internasional.