Hayati Nupus
16 September 2019•Update: 16 September 2019
Gözde Bayar
ANKARA
Presiden AS Donald Trump pada Senin mengatakan bahwa negaranya “terkunci” untuk tak menanggapi serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi.
“Ada alasan untuk percaya bahwa kita tahu pelakunya. Kami terkunci bergantung pada verifikasi, tapi menunggu paparan dari Kerajaan [Arab Saudi] soal siapa yang mereka yakini sebagai pelaku serangan ini, dan berdasarkan ketentuan apa kami akan melanjutkan!” kata Trump lewat Twitter.
Presiden AS juga mengizinkan penggunaan cadangan minyak darurat, untuk memastikan pasokan stabil setelah serangan yang menutup lima persen produksi minyak dunia.
“Berdasarkan serangan terhadap Arab Saudi, yang mungkin berdampak pada harga minyak, saya telah mengesahkan pelepasan cadangan minyak dari Strategic Petroleum Reserve, jika diperlukan, dalam jumlah yang harus ditentukan cukup untuk menjaga pasar terpasok baik,” kata dia.
Sebelumnya, seorang pejabat senior AS mengatakan kepada wartawan bahwa bukti serangan itu, yang menghantam fasilitas pemrosesan minyak terbesar di dunia, menunjukkan Iran sebagai dalang peristiwa, bukan kelompok Yaman Houthi.
Menteri Luar Negeri Mike Pompeo juga menyalahkan Teheran karena mengendalikan drone yang menabrak dua fasilitas minyak di Arab Saudi.
“Teheran berada di balik hampir 100 serangan terhadap Arab Saudi. Iran telah meluncurkan serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, pada pasokan energi dunia,” kata dia lewat Twitter.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Abbas Mousavi, membantah tuduhan AS, dengan menyebut mereka “tak bertanggung jawab” dan “tak berguna”.
Pada 14 September, Saudi Press Agency secara resmi melaporkan kobaran api di Abqaiq dan Khurais.
Abqaiq adalah lokasi pabrik pengolahan minyak terbesar milik negara, Saudi Aramco.
Sehari kemudian, Saudi mengumumkan penghentian sementara produksi minyak Aramco.
Meski belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan itu, pemberontak Houthi di Yaman, yang berperang melawan koalisi yang dipimpin Saudi, mengatakan mereka telah melakukan serangan serupa sebelumnya.
Houthi yang didukung Iran, dengan rudal balistik menengah dan lemparan jarak jauh yang biasanya dinetralkan oleh sistem pertahanan udara Saudi, menargetkan lokasi strategis tertentu Arab Saudi dengan drone bersenjata.
Yaman dilanda kekerasan sejak 2014, ketika kelompok Houthi yang berpihak ke Iran menguasai sebagian besar negara itu, termasuk ibu kota Sanaa.
Tahun berikutnya, konflik meningkat, ketika Saudi dan sekutu Arabnya meluncurkan kampanye udara besar-besaran yang bertujuan menggulung kembali kemenangan Houthi untuk mendukung pemerintah pro-Saudi di negara itu.
Lebih dari 70.000 orang tewas dalam konflik yang berkecamuk sejak 2016, menurut perkiraan PBB.
Selain itu, serangan udara Saudi yang diklaim berusaha mendukung pemerintah pro-Saudi telah menyebabkan kematian banyak warga sipil di negara yang dilanda perang sejak 2015.