Mohamad Misto, Levent Tok
06 Maret 2018•Update: 06 Maret 2018
Mohamad Misto, Levent Tok
ANKARA
Dengan target merebut wilayah Ghouta Timur dari kelompok oposisi, rezim Bashar al Assad beserta pendukungnya melancarkan operasi pembelahan wilayah tersebut.
Namun di saat bersamaan pasukan oposisi juga melakukan pertahanan dan membalas serangan tersebut guna mengambil kembali wilayah yang direbut oleh rezim Assad itu.
Rezim Assad dan pendukungnya hingga kini masih terus melanjutkan serangan meski Dewan Keamanan PBB telah mengadopsi resolusi yang menyerukan gencatan senjata selama 30 hari dan Rusia telah mengumumkan gencatan senjata selama lima jam setiap harinya.
Menurut informasi yang diperoleh dari sumber lokal, rezim Assad dan Rusia mulai membombardir daerah Duma dan sekitarnya guna membelah Ghota Timur menjadi dua untuk mempermudah penguasaan di wilayah Ghouta Tİmur.
Milisi kelompok oposisi melakukan serangan balik ke pihak rezim untuk merebut kembali daerah Utaya, Nashshabiyah, Harima dan Hosh al-Dawahra.
Menurut reporter Anadolu Agency di lapangan, kelompok oposisi berhasil merebut kembali beberapa titik yang telah direbut rezim. Hingga kini bentrokan masih terus berlanjut.
Rezim Assad dan para pendukungnya akan membelah wilayah Ghouta Timur menjadi dua wilayah jika mereka berhasil mencapai titik distrik Harasta, dengan jarak dari arah timur ke barat sekitar tiga kilometer dari wilayah yang baru mereka kuasai.
Hingga kemarin, sebanyak 756 warga sipil tewas dalam serangan rezim Assad di Ghouta Timur selama dua minggu terakhir.
Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoigu mengatakan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putih telah memberikan instruksi untuk menerapkan jeda kemanusiaan antara pukul 09.00-14.00 waktu setempat setiap hari.
Dewan Keamanan PBB mengadopsi sebuah resolusi gencatan senjata kemanusiaan setidaknya selama 30 hari di Suriah tanpa penundaan.
Resolusi tersebut menyerukan penyaluran bantuan kemanusiaan ke Suriah dan terutama evakuasi medis terhadap pasien kritis dan korban luka-luka di Ghouta Timur yang terkepung.
Ghouta Timur terletak di kawasan de-eskalasi yang disetujui oleh Turki, Rusia dan Iran. Di wilayah itu khususnya, aksi serangan dan kekerasan tidak boleh dilakukan.
Ghouta Timur, yang berada di wilayah pinggiran kota Damaskus, telah dikepung selama lima tahun terakhir dan akses kemanusiaan ke daerah tersebut, yang merupakan rumah bagi sekitar 400.000 orang.
Dalam delapan bulan terakhir, kekuatan rezim Assad telah mengintensifkan pengepungan Ghouta Timur mereka, sehingga hampir tidak mungkin bagi makanan atau obat-obatan masuk ke distrik tersebut dan membuat ribuan pasien butuh perawatan.