21 Desember 2017•Update: 21 Desember 2017
Ghouta Timur/Ankara
Hani bayi piatu berusia lima bulan yang terluka parah dalam serangan rezim Bashar Assad di wilayah Ghouta Timur di Suriah, akhirnya meninggal dunia setelah bertahan hidup selama beberapa waktu.
Dalam serangan udara yang dilakukan oleh rezim pada Kamis lalu di Ein Tarma, Ghouta Timur, si kecil Hani kehilangan ibunya Gufran, dan kakak perempuannya yang berusia 3 tahun, sedangkan Hani mengalami luka parah.
Sang ibu dan kakaknya yang terkena serangan udara tidak dapat pengobatan dan perawatan karena blokade yang dilakukan oleh rezim Assad.
Si kecil Hani dilarikan ke posko kesehatan yang minim obat-obatan dan peralatan kesehehatan, dan si bayi Hani yang malang ini hanya mampu bertahan hidup selama 5 hari.
Di kepala Hani terdapat banyak pecahan peluru menempel dan bagian organ dalamnya hancur.
Lima tahun terakhir, 400 ribu warga di timur Damaskus itu hidup di bawah pengepungan militer.
April lalu, makanan masih bisa dipasok ke Ghoutatimur melalui jalan ilegal, terowongan tersembunyi dan pedagang.
Namun sekarang tidak mungkin karena rezim dan kelompok teroris asing pendukungnya memperketat blokade.
Keadaan ini semakin mempersulit kehidupan sehari-hari di Ghouta Timur.
Ghouta Timur masuk sebagai "zona de-eskalasi" dalam perjanjian Astana.
Rusia sebagai penjamin rezim menyatakan gencatan senjata mulai berlaku pada 22 Juli lalu, namun serangan rezim masih terus berlanjut tanpa henti.
Korban jiwa akibat serangan rezim terhadap Ghouta Timur yang kini masih berada dalam blokade rezim terus meningkat