JENEWA
Badan pangan PBB dan badan kesehatan global pada Jumat memperingatkan bahwa Suriah, terutama bagian barat lautnya, menghadapi "situasi terburuk" dengan ketahanan pangan yang rendah.
Masyarakat di sana menghadapi penyakit dan kematian karena tidak memiliki akses ke obat-obatan.
"Secara keseluruhan, tingkat kerawanan pangan di Suriah adalah yang terburuk sejak dimulainya konflik," kata juru bicara Program Pangan Dunia (WFP) di Jenewa Tomson Phiri pada briefing PBB.
Saat ini, diperkirakan 12,4 juta warga Suriah mengalami kerawanan pangan, atau hampir 60 persen dari populasi tidak tahu apa yang akan mereka makan hari besok.
“Sekarang yang menjadi perhatian terbesar saat ini adalah Suriah Barat Laut, di mana hampir 30 persen orang yang dibantu WFP,” kata Phiri.
“Pembaruan resolusi PBB yang memungkinkan kelanjutan operasi lintas perbatasan ke barat laut Suriah melalui Turki sangat penting. Jutaan nyawa dipertaruhkan,” tambah dia.
“Rakyat Suriah telah mengungsi beberapa kali; tergusur sekali sudah cukup, tergusur berkali-kali ketika Anda rentan … membuat Anda tidak mampu mengatasinya, bahkan dengan guncangan sekecil apa pun.”
“Bantuan yang kami berikan tidak selalu tepat waktu,” ujar dia.
Berbicara pada briefing, juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia Christian Lindmeier mengatakan, "Meski tanggapan besar-besaran PBB di Suriah dan di seluruh kawasan, lebih banyak akses kemanusiaan diperlukan untuk menjangkau mereka yang paling membutuhkan. Ini termasuk akses lintas-garis dan lintas-batas.”
'Jutaan orang terpojok ke perbatasan
Dia mengatakan keadaan orang-orang hari ini lebih buruk daripada 11 bulan yang lalu ketika Dewan Keamanan PBB terakhir meninjau masalah ini.
"Jutaan orang terdesak ke perbatasan di zona perang aktif di barat laut Suriah," kata Lindmeier, mencatat bahwa 80 persen dari populasi tetap membutuhkan bantuan kemanusiaan untuk kelangsungan hidup mereka.
"Penghentian pasokan ini hanya dapat menyebabkan peningkatan penyakit dan kematian, karena mereka akan merampas anak-anak dari vaksin yang menyelamatkan jiwa, pasien ginjal dari perawatan dialisis, pasien tuberkulosis dari obat-obatan esensial dan wanita hamil dari layanan perawatan kebidanan darurat," kata juru bicara WHO.
Lindmeier mengatakan bahwa mekanisme COVAX yang didukung PBB untuk distribusi vaksin yang adil untuk melawan pandemi adalah satu-satunya pilihan untuk akses ke vaksin di daerah tersebut.
"Namun kurang dari 0,5 persen dari populasi telah menerima satu dosis," kata Lindmeier.
PBB mengirimkan sekitar 1.000 truk bantuan ke Suriah barat laut setiap bulan pada 2020, melintasi perbatasan dari Turki ke Idlib dan menjangkau 2,4 juta orang setiap bulan sepanjang tahun, kata juru bicara WHO.
Pada April 2021, pintu penyeberangan itu digunakan untuk mengirimkan vaksin tahap pertama vaksinasi Covid-19 ke Suriah Barat Laut.
"Jika otorisasi lintas batas tidak diperbarui, tidak mungkin untuk meluncurkan vaksinasi Covid-19 yang andal dan dapat diprediksi ke populasi," tukas Lindmeier.
news_share_descriptionsubscription_contact


