Rhany Chairunissa Rufinaldo
14 Agustus 2018•Update: 14 Agustus 2018
Ali Jawad dan Haydar Karaalp
BAGHDAD
Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi mengatakan pemerintahnya tidak akan melakukan transaksi yang didominasi dolar dengan Iran, sejalan dengan sanksi AS, namun di saat yang sama menahan diri untuk tak menerapkan penuh sanksi Amerika terhadap Teheran.
Al-Abadi membuat pernyataan tersebut saat melakukan konferensi pers pada Senin, setelah pertemuan mingguan kabinet.
Pekan lalu, al-Abadi mengundang berbagai kritik, yang datang dari pejabat Iran maupun blok politik Syiah Irak, setelah mengumumkan niatnya untuk menerapkan semua sanksi Washington terhadap Tehran.
Koalisi Al-Fatah Irak, yang dikenal dekat dengan Iran, menuduh Perdana Menteri melupakan dukungan yang diberikan Iran kepada pemerintahnya pada tahun 2014 ketika kelompok teroris Daesh menyerbu kota di utara Mosul.
"Kami tidak akan melakukan transaksi yang didominasi dolar dengan Iran, tetapi kami tidak akan sepenuhnya berkomitmen kepada sanksi AS," ujar al-Abadi kepada wartawan.
Pekan lalu, AS kembali memberlakukan sanksi ekonomi tahap pertama terhadap Iran, yang menargetkan sektor perbankan negara itu.
Sanksi tersebut dimaksudkan untuk menghalangi perolehan mata uang AS oleh Iran, perdagangan logam mulia, transaksi bank dalam mata uang Iran, kegiatan yang terkait dengan hutang negara Iran dan sektor otomotif negara.
Dalam sebuah cuitan baru-baru ini, Presiden AS Donald Trump mengatakan: “Siapa pun yang berbisnis dengan Iran TIDAK akan melakukan bisnis dengan Amerika Serikat. Saya menuntut PERDAMAIAN DUNIA, tidak kurang! ”
Mengacu pada kunjungan ke Ankara minggu depan, al-Abadi mengatakan Irak tidak akan mengizinkan serangan apapun dari wilayahnya ke Turki.
"Selain pembagian sumber daya air antara Turki dan Irak, topik seperti ekonomi, investasi dan keamanan akan dibahas," kata Perdana Menteri.
"Turki adalah tetangga kami dan kami tidak akan mengizinkan serangan apapun dari tanah Irak ke Turki," tambahnya.