Abdullah Asiran dan Sorwar Alam
02 Juni 2018•Update: 03 Juni 2018
Abdullah Asiran dan Sorwar Alam
DEN HAAG
Lebih dari 40 persen pengungsi Suriah yang tinggal di Belanda masih menderita penyakit kejiwaan, meski telah meninggalkan negerinya yang dilanda perang lebih dari dua tahun sebelumnya, menurut sebuah studi baru.
Institut Penelitian Sosial Belanda (SCP) bersama beberapa lembaga lain menerbitkan laporan tentang kondisi warga Suriah di Belanda seputar mental, sosial, dan dukungan pendidikan di negara Eropa.
"41 persen warga Suriah dalam penelitian ini dianggap memiliki masalah kesehatan mental, misalnya sering merasa cemas, sedih, atau depresi," menurut laporan itu.
Survei dilakukan kepada warga Suriah yang diberi izin tinggal sementara di Belanda sepanjang Januari 2014 dan Juli 2016. Sebanyak 44.000 warga Suriah memperoleh izin tersebut.
Hal-hal negatif yang mereka alami selama perjalanan setahun dari Suriah ke Eropa adalah salah satu penyebab utama trauma.
Sebanyak 33 persen pengungsi mengalami penganiayaan dan pelecehan selama perjalanan, sementara sebagian besar harus membayar mahal kepada agen penjualan manusia, menurut SCP.
Riset itu menyatakan bahwa pengungsi memiliki akses terbatas ke fasilitas pengolahan logam di Belanda, negara dengan rata-rata 13 persen warganya memiliki masalah psikologis.
Survei ini juga menyoroti rendahnya partisipasi pengungsi Suriah dalam sistem pendidikan Belanda, karena hampir tidak ada pengungsi yang memperoleh sertifikasi pendidikan Belanda.
Hanya 15 persen dari pemegang status suaka Suriah mengambil bagian dalam sistem pendidikan Belanda, tambahnya.
Selain itu, 20 persen pengungsi Suriah yang mengambil bagian dalam survei mengatakan mereka ingin kembali ke negara asal setelah perang berakhir.
Turki, negara dengan pengungsi Suriah terbanyak, dipuji oleh komunitas internasional karena telah memberikan perawatan dan perlindungan kepada lebih dari 3 juta pengungsi.
Seiring dengan perlindungan, dukungan makanan, dan pendidikan, Turki menawarkan dukungan psikologis dan sosial kepada pengungsi yang mengalami trauma mendalam.