Chandni
10 April 2018•Update: 11 April 2018
Safvan Allahverdi
WASHINGTON
Amerika Serikat (AS) "bertekad" merespon tindakan rezim Assad yang menggunakan senjata kimia terhadap warga Suriah, tidak peduli apakah Dewan Keamanan PBB akan mengambil langkah atau tidak, kata diplomat AS pada Senin.
"Kami sudah melewati masa menarik simpati. Kami sekarang berada dalam posisi untuk melihat keadilan bagi dunia," kata Nikki Haley, Duta Besar AS untuk PBB, dalam rapat darurat Dewan Keamanan terkait serangan Sabtu pekan lalu.
"Sejarah akan mengingat momen ini, apakah Dewan Keamanan melakukan tugas mereka atau menunjukkan kegagalan total untuk melindungi warga Suriah," kata Haley.
"Apapun itu, AS akan menanggapinya."
Pertemuan itu digelar menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengatakan AS akan merespon dalam waktu satu atau dua hari.
"Ini menyangkut kemanusiaan dan tidak boleh dibiarkan terjadi," kata Trump.
Rapat itu dilakukan atas permintaan AS dan delapan orang anggota Dewan lainnya yang menuntut agar rezim Assad bertanggung jawab dan membuka investigasi serta membolehkan akses terhadap korban.
Tindakan seorang 'monster'
"Hanya seorang monster yang menargetkan warga sipil lalu memastikan tidak ada ambulans untuk membawa korban ke rumah sakit. Tidak ada rumah sakit untuk menyelamatkan mereka. Tidak ada dokter atau obat-obatan untuk merawat mereka," lanjut Haley.
"Saya bisa menunjukkan foto-foto kekejian ini kepada anda, namun apa gunanya? Monster yang melakukan serangan ini tidak memiliki hati nurani, dia bahkan tidak akan tergerak melihat foto anak-anak yang mati."
Haley juga mengkritik kegagalan Dewan Keamanan yang tidak mensanksi penggunaan senjata kimia oleh Suriah.
"Dulu seluruh dunia sepakat dan mengecam senjata kimia, namun sekarang hal itu sudah menjadi normal," cecarnya.
Dia juga menuduh Moskow yang mendukung Assad, dan mengatakan: "Rezim Rusia, yang tangannya berlumuran darah anak-anak Suriah, juga tidak malu melihat foto-foto korban."
"Kita tidak bisa menghiraukan peran Rusia dan Iran yang mendukung rezim Assad melakukan pembunuhan."
Pasukan rezim Assad meluncurkan serangan di distrik Douma, Ghouta Timur pada Sabtu tengah malam, menggunakan gas beracun yang membunuh setidaknya 78 warga sipil, menurut organisasi pertahanan sipil White Helmets.
Area Damaskus mengalami blokade selama lima tahun terakhir, sehingga 400.000 penduduknya tidak bisa menerima bantuan kemanusiaan.
Dalam delapan bulan terakhir, rezim Assad meningkatkan pengepungan itu sehingga makanan dan obat-obatan sulit masuk ke Damakus, dimana ribuan orang membutuhkan bantuan medis.