Rhany Chairunissa Rufinaldo
30 November 2018•Update: 30 November 2018
Fatih Hafiz Mehmet dan Zuhal Demirci
ANKARA
Mantan menteri luar negeri Yunani Nikos Kotzias mengatakan sejumlah diplomat Yunani mengeluarkan visa untuk anak-anak di bawah umur yang tidak ditemani walinya untuk tujuan perdagangan organ.
Kotzias mengundurkan diri dari jabatannya bulan lalu menyusul perselisihan dengan anggota Kabinet lainnya soal cara menyelesaikan sengketa nama dengan Makedonia.
Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Athena, dia mengatakan dia telah melaporkan 93 kasus kepada jaksa dan sejumlah diplomat telah dipenjara karena mengeluarkan visa untuk anak-anak di bawah umur yang tidak didampingi wali.
"Apakah Anda tahu apa artinya visa untuk anak di bawah umur yang tidak ditemani? Itu berarti perdagangan organ. Dan karena saya sudah menyelamatkan beberapa nyawa, saya akan tidur dengan tenang ketika mati," kata Kotzias.
Sang mantan menteri sebelumnya telah berbicara secara terbuka tentang masalah visa untuk anak di bawah umur yang tidak didampingi, termasuk dalam sebuah acara di pulau Kreta pada 22 Oktober, tetapi dia tidak menyebutkan kaitannya dengan perdagangan organ.
Dia mengatakan sejumlah duta besar telah dipenjara atas masalah ini, tetapi dia tidak tahu mengapa pers tidak menulis tentang hal itu.
"Sebuah visa bahkan dikeluarkan untuk seorang anak berusia 14 bulan tanpa pendamping, dan hal itu ditutup-tutupi," katanya.
Kotzias tidak menanggapi permintaan dari Anadolu Agency untuk memberikan komentar.
Karena kasus-kasus itu tidak diliput oleh media, tidak diketahui siapa diplomat Yunani yang diduga terlibat atau yang dipenjarakan.
Pengungkapan tentang peran pejabat negara yang korup dalam migrasi ilegal dan perdagangan organ seperti yang dilakukan Kotzias sangat jarang terjadi di Eropa.
Badan Uni Eropa untuk Kerja Sama Penegakan Hukum (Europol) mengatakan ada sekitar 10 ribu anak-anak pengungsi yang tidak didampingi hilang di Eropa.
Dalam sebuah wawancara pada Januari 2016, Brian Donald, kepala staf Europol, mengatakan jumlahnya melebihi 10 ribu.
Dia mengatakan bahwa pada 2015, 270 ribu anak-anak pengungsi masuk Eropa dan sejumlah besar dari mereka tidak didampingi walinya.
Jadi, menurutnya, jumlah pengungsi anak tanpa pengasuhan yang hilang di Eropa sebenarnya bisa jauh lebih tinggi daripada yang diperkirakan.
Sebuah laporan yang dirilis Europol pada Februari 2016 mengatakan korupsi merupakan faktor pendorong utama penyelundupan migran.
"Staf konsulat dan kedutaan juga menjadi sasaran para pelaku kriminal untuk mendukung aplikasi imigrasi dan menyediakan visa dan paspor," katanya.