Muhammad Abdullah Azzam
06 Februari 2021•Update: 07 Februari 2021
Staf Agensi Anadolu
ISTANBUL
Presiden Turki pada Jumat dengan keras mengkritik Amerika Serikat (AS) dan Prancis atas pernyataan mereka tentang protes di Universitas Bogazici di Istanbul.
"Apa yang dikatakan Amerika atau Uni Eropa? 'Kami mengutuk apa yang terjadi di Universitas Bogazici.' Saya mengatakan ini kepada AS: 'Atas nama demokrasi, apakah Anda tidak merasa malu atas peristiwa yang terjadi di Amerika sesaat sebelum pemilihan umum?'," Kata Presiden Recep Tayyip Erdogan kepada wartawan setelah Salat Jumat.
Protes meletus di Istanbul terhadap penunjukan rektor baru Universitas Bogazici, Mehmet Bulu, dengan sekelompok mahasiswa yang menyerukan pengunduran dirinya.
Demonstrasi semakin intensif ketika dua mahasiswa Universitas Bogazici ditahan oleh pengadilan Turki karena memajang lukisan yang diduga menyinggung nilai-nilai Islam di lingkungan universitas.
Pada Selasa, Menteri Dalam Negeri Turki Suleyman Soylu mengatakan hampir 80 dari mereka yang baru-baru ini ditangkap di tengah protes yang sedang berlangsung oleh anggota kelompok teror sayap kiri, termasuk DHKP/C dan TKP-ML.
Mengingat insiden di AS sebelum pemilihan presiden, Erdogan mengatakan, "Bagaimana setiap orang saling mengancam selama peristiwa di sana, bagaimana rasisme berada di titik tertinggi. Bagaimana polisi membunuh warga kulit hitam Anda. Bagaimana Anda menjelaskannya kepada dunia? "
Protes rompi kuning di Prancis
Erdogan juga mengecam presiden Prancis atas komentarnya tentang protes di Universitas Bogazici.
"Macron, pertama-tama Anda urus dulu rompi kuning itu. Saat ini, semua rompi kuning itu, warga ada di jalanan. Kau tidak bisa menangani ini, kau harus menyelesaikan ini dulu," tutur dia.
Presiden Turki mengatakan kelompok oposisi berusaha keras untuk memperumit masalah, namun protes di universitas ini tidak akan berujung pada insiden Gezi Park.
"Masalah ini tidak akan menjadi protes Gezi Park lainnya. Itu sebabnya semua lembaga penegak hukum kami mengambil langkah yang diperlukan dengan tekad," imbuh dia.
Pada musim panas 2013, sejumlah kecil demonstrasi di Taman Gezi Istanbul berkembang menjadi gelombang protes nasional terhadap pemerintah yang menewaskan delapan pengunjuk rasa dan seorang petugas polisi.
Pemerintah kemudian mengatakan protes itu diatur oleh anggota kelompok teror FETO, yang telah menyusup ke polisi dan pengadilan.
FETO dan pemimpinnya yang berbasis di AS, Fetullah Gulen, mengatur kudeta yang dikalahkan pada 15 Juli 2016, yang menyebabkan 251 orang teas dan hampir 2.200 lainnya terluka.
Turki menuduh FETO melakukan kampanye jangka panjang untuk menggulingkan negara melalui infiltrasi lembaga-lembaga Turki, khususnya militer, polisi, dan pengadilan.