Hayati Nupus
16 November 2017•Update: 17 November 2017
Hayati Nupus
JAKARTA
Direktur Jenderal Urusan Riset dan Keamanan Kementerian Luar Negeri Turki Aylin Tashan dan Kepala Departemen Interpol-Europol Kepolisian Nasional Turki Lutfi Cicek berkunjung ke kantor Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Polhukam) di Jakarta, Kamis.
Kunjungan ini juga didampingi oleh Duta Besar Turki untuk Indonesia Sander Gürbüz
Menko Polhukam Wiranto mengatakan ini adalah kunjungan balasan setelah dia dan Presiden RI Joko Widodo berkunjung ke Turki Juli lalu. Kunjungan ke Turki tersebut membicarakan persoalan terorisme dan strategi untuk memotong pembiayaan terorisme.
“Kunjungan ini untuk memperdalam cara menyelesaikan persoalan terorisme di Indonesia dan Turki, kita dapat bertukar pengalaman,” kata Wiranto kepada Anadolu Agency.
Sebagai wilayah yang memiliki perbatasan langsung dengan Suriah yang dikuasai Daesh, kata Wiranto, Turki terbilang berhasil menetralisasi pengaruh Daesh di negaranya. Seperti Indonesia, Turki tak hanya memiliki pendekatan lunak untuk menghadapi persoalan terorisme, tapi sekaligus pendekatan keras.
“Ini kan sesuatu yang luar biasa, akan terus kita perbincangkan [strategi pendekatan ini],” kata Wiranto.
Kunjungan ini, kata Wiranto lagi, merupakan pertemuan awal sebelum perbincangan dengan Badan Nasional Penanganan Terorisme (BNPT) dan otoritas Indonesia lainnya menyoal terorisme siang ini.
Turki merupakan wilayah transit WNI yang hendak menyeberang ke Suriah untuk bergabung dengan Daesh.
Berdasarkan pernyataan Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Setyo Wasisto, hingga Oktober total WNI yang terlibat Daesh di Irak dan Suriah berjumlah 671 orang.