Hakan Copur
WASHINGTON
Presiden Turki pada Senin mendesak komunitas internasional untuk menyadari tanggung jawab di Suriah atas meningkatnya serangan terhadap Idlib.
Recep Tayyip Erdogan mengevaluasi perkembangan terbaru di provinsi barat laut Idlib dan posisi Turki tentang masalah ini dalam artikel yang ditulisnya untuk harian AS, Wall Street Journal.
“Semua anggota komunitas internasional harus memahami tanggung jawab mereka atas meningkatnya serangan terhadap Idlib. Konsekuensi dari kelambanan sangat besar,” kata Erdogan dalam artikel yang berjudul 'Dunia Harus Menghentikan Assad'.
Erdogan juga mengatakan bahwa orang-orang Suriah tidak bisa diserahkan kepada belas kasihan rezim Bashar al-Assad.
"Serangan rezim di Idlib juga akan menciptakan risiko kemanusiaan dan keamanan yang serius bagi Turki, seluruh Eropa dan sekitarnya," tambahnya.
Erdogan mengatakan bahwa AS, yang fokus pada serangan kimia rezim Assad, perlu "menolak hierarki kematian yang sewenang-wenang tersebut".
"Senjata konvensional bertanggung jawab atas lebih banyak kematian," katanya.
Dia juga mengatakan bahwa menghentikan "pertumpahan darah berikutnya" di Suriah bukan hanya kewajiban Barat, mitra-mitra Turki dalam proses perdamaian Astana - Rusia dan Iran - juga bertanggung jawab untuk mencegah "bencana kemanusiaan".
Erdogan menyerukan “operasi kontraterorisme internasional yang lebih komprehensif” untuk membasmi teroris dan ekstremis di Idlib, menyatakan bahwa kelompok teroris tertentu sedang aktif di daerah tersebut.
Rezim Suriah baru-baru ini mengumumkan rencana untuk meluncurkan serangan militer besar-besaran di daerah itu, yang telah lama dikendalikan oleh berbagai kelompok oposisi bersenjata.
PBB memperingatkan pekan lalu bahwa serangan semacam itu akan mengarah pada "bencana kemanusiaan terburuk di abad ke-21".
Terletak di dekat perbatasan Turki, Idlib adalah rumah bagi lebih dari 3 juta warga Suriah, banyak di antaranya melarikan diri dari kota-kota lain setelah serangan oleh pasukan rezim.
Pada Jumat, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyerukan gencatan senjata di Idlib selama pertemuan tripartial di Teheran dengan Presiden Iran Hassan Rouhani dan Presiden Rusia Vladimir Putin.